The Abyssinians

Reggae, Ethiopia, dan suara keabadian

Buku Genesis

Bernard Collins dan Donald Manning mulai bernyanyi bersama di Jones Town, kawasan padat di jantung Kingston, pada 1968. Titik awal dari apa yang kemudian dunia kenal sebagai The Abyssinians. Donald lalu mengajak adiknya, Lynford, yang sudah terbiasa mengasah harmoni vokal bersama kakak tertua mereka, Carlton Manning (Carlton & The Shoes).

Carlton melatih trio ini dalam gaya harmoni minor chord yang kemudian menjadi signature mereka. Ia juga mengajari Donald bermain gitar, perannya sangat kuat. Mentorship yang setara dengan peran Joe Higgs bagi The Wailers.

Nama yang mereka pilih sudah berbicara sangat kuat, menjadi sebuah identitas solid yang mengarungi sejarah reggae di Jamaika. Abyssinia adalah nama lama Ethiopia, dan dalam tradisi Rastafari, Ethiopia dipandang sebagai Zion: pusat spiritual diaspora Afrika.

Himne spiritual dalam konstelasi popular

Maret 1969, mereka masuk Studio One dan merekam “Satta Massagana.” Dalam bahasa Amharik Ethiopia, frasa itu berarti “give thanks and praise.” Strukturnya lambat, repetitif, meditatif. Sebagian liriknya dalam bahasa Amharik. Saat itu, terdengar asing di industri rekaman Jamaika yang mayoritas masih berotasi pada tema percintaan dan kehidupan urban.

Clement “Coxsone” Dodd mendengarnya dan memilih untuk tidak merilis lagu tersebut karena potensi komersial yang minim. Tapi The Abyssinians membeli kembali master rekamannya, mendirikan label Clinch, dan merilis “Satta Massagana” secara mandiri pada 1971.

Lagu itu menyebar di komunitas Rastafari Jamaika tanpa strategi label. Hanya promosi alami dari mulut ke mulut, gathering spiritual, ke ritual Nyabinghi, juga dari lantai dansa ke lantai dansa yang lain. Riddim nya menjadi salah satu yang paling banyak dipakai dalam sejarah reggae. Mulai dari Big Youth, Dillinger hingga puluhan musisi lain.

Tahun 1975, Clive Hunt mengedarkan edisi terbatas album dalam format white-label. Setahun kemudian, rilis resmi pertama keluar di Jamaika melalui label Penetrate, lalu di Amerika Serikat melalui Jam Sounds. Album “Satta Massagana” memuat “Declaration of Rights”, “Forward Unto Zion”, “African Race”, “Abendigo”, dan “I and I.”  Dan menjadi sebuah dokumen spiritual penuh konsistensi sejak awal.

“Satta Massagana” memilih takdirnya sendiri, alih-alih lagu orientasi pasar ia menjadi pondasi dan sejarah reggae spiritual!

Bahasa Spiritual dari “Declaration Of Rights”

Ketika Jamaika bergolak pada tahun 1970an, ketimpangan ekonomi melebar, konflik politik mengeras, dan kesadaran Black consciousness tumbuh di banyak komunitas urban. Reggae 

mengambil peran, merengkuh isu sosial, spiritual, dan identitas. Dalam konteks itu, “Declaration of Rights” menjadi pertanyaan yang begitu tegas: martabat manusia dan hak hidup adalah urusan yang layak dibawa ke dalam musik.

Bahkan aransemen lagu bersejarah ini sudah datang dengan kesetaraan, perpaduan tradisi gospel diaspora Afrika dan struktur reggae modern Jamaika berbagi tugas dengan adil. Harmoni vokal yang menjadi spotlight didukung oleh kesetaraan yang juga dibagikan oleh departemen bassline dan tugas gitar yang tampil minimalis.

Visi dalam Turbulensi

The Abyssinians menghadapi persoalan yang familiar bagi banyak musisi Jamaika: sengketa hak nama grup dan distribusi katalog rekaman. Industri musik Jamaika pada masa itu, akhir 1970-an hingga awal 1980-an berjalan di atas sistem yang sering menempatkan musisi di posisi yang lemah secara kontraktual.

Tapi musik mereka terus bergerak, tidak butuh persetujuan industri. Jepang, Inggris, Eropa bahkan Amerika Serikat menjadi rumah baru dengan telinga-telinga yang setuju dengan pesan dari The Abyssinians.  Mulai dari kolektor vinyl, komunitas sound system, dan musisi dub yang menjaga sirkulasi musik mereka lintas generasi. Tahun 1993, Heartbeat Records menjadi bukti untuk fakta ini. Mereka merilis “Satta Massagana” dengan tambahan empat lagu bonus yang akhirnya membuat generasi baru menemukan sejarah besar yang nyaris gagal lahir.

Warisan The Abyssinians

Lynford Manning meninggal pada 25 Juni 2024 di Miramar, Florida, dalam usia hampir 80 tahun. Setelah meninggalkan Jamaika pada 1980 dan beralih ke kekristenan, ia mengakhiri karier musikalnya dan menjadi anggota gereja yang setia selama lebih dari tiga dekade. Kepergiannya menutup satu babak dari trio asli yang merekam “Satta Massagana” di Studio One lebih dari lima puluh tahun lalu.

“Satta Massagana” masih diputar hari ini. Di festival reggae, sesi dub, dan gathering sound system di berbagai belahan dunia. Ini adalah bukti bahwa ada karya-karya yang lahir bukan untuk zamannya sendiri. Karya yang lahir melampaui zaman dan tetap relevan bergulir dari generasi ke generasi. The Abyssinians adalah sejarah yang ditolak industri, diterima dunia lewat keputusan kolektif sampai akhirnya industri itu mengakui nilai mewah dibalik karya-karya itu.

Catatan nya, mereka melakukan itu lima puluh tahun yang lalu!



  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *