Founding Fathers (Jamaican Sound System Culture) Pt. 1

Sebuah Sorotan

Referensi dan literasi tentang budaya sound system ini sudah begitu banyak. Namun satu hal yang sama yang selalu ditemukan di sana adalah, kesenangan! Ya, selalu menyenangkan mendapatkan informasi tentang budaya sound system dari Jamaika ini. Dalam edisi ini, kami dari kultur merangkum beberapa nama yang bagi kami adalah Founding Fathers. Highlight ini kami bagi dalam dua seri pada edisi khusus akhir tahun 2021. Inilah seri pertama.

Kehadiran budaya Sound System dari Jamaika bisa dibilang menjadi sebuah tonggak penting bagi perkembangan musik dunia. Berawal dari tradisi ini, kemudian dunia mengenal Ska, Reggae, Rocksteady, Dub, Dancehall dan banyak lagi varian di antaranya.

Sebuah tradisi yang akhirnya menyumbangkan keindahan lewat berbagai karya dari para pelaku nya. Sebuah tradisi yang sudah berjalan sejak 80 tahun lalu!

Pelopor

Jamaika baru memiliki Radio Nasional JBC (Jamaica Broadcasting Corporation) pada tahun 1959. Dua dekade sebelumnya, sumber siaran berupa berita dan hiburan hanya didapat dari saluran radio asing. Bahkan hingga tahun 1940, belum banyak warga Jamaika yang mampu memiliki perangkat radio. Alhasil, mereka berkumpul bersama untuk menikmati siaran radio. Hal ini juga menjadi medium bagi warga Jamaika untuk bersosialisasi. Mulai dari kegiatan muda-mudi, sosial politik dan tentunya menikmati musik. Hingga akhirnya menciptakan ruang baru bagi warga, yaitu untuk berdansa!
Di era 1940an, dari kawasan Luke Lane – Kingston, Jamaika. Seorang pengusaha lokal Jamaika keturunan China, Tom Wong begitu terkenal dengan kegiatan nya memutar musik. Ia hadir dengan sebuah truk berisi lengkap dengan generator, pemutar piringan hitam dan kumpulan speaker, menyajikan sebuah pesta musik di jalanan. Unit yang dia kerjakan ini kemudian hari dikenal dengan nama sound system. Tom “The Great Sebastian” Wong, (diambil dari nama salah satu pemain sirkus terkemuka) kemudian dicatat sebagai salah satu pelopor sound system yang mempengaruhi banyak unit sound system di masa depan. Tom tidak berjalan “sendiri” di saat itu. Count Smith The Blues Blaster dan Sir Nick The Champ juga hadir di era ini.
Di saat itu Tom mendapat dukungan besar dalam meraih keberhasilan, antara lain dukungan dari Duke Vin, Prince Buster (seorang mantan petinju yang kemudian menjadi salah satu legenda musik Jamaika) dan yang tak kalah penting, dukungan dari icon bersejarah nan legendaris, Hedley H.G Jones atau yang lebih dikenal dengan Hedley Jones. Hedley, adalah inventor dari “House Of Joy”, sebuah susunan kabinet speakers yang menjadi prototipe speaker unit sound system hingga kini. Ia tak hanya mendukung Tom, selain mendukung banyak unit sound system setelah The Great Sebastian, ia dikenal sebagai sosok jenius dalam khasanah musik Jamaika. Ia adalah orang pertama yang merakit cello dan gitar elektrik yang dia buat untuk musisi lain di Jamaika. Bahkan dari ilmu yang ia miliki, ia menyumbangkan design untuk sistem lalu lintas di Jamaika, dalam wujud sebuah Traffic Light!

Hedley, bersama Jacky Eastwood dan Fred Stanford menjadi pelopor pengembangan sistem tata suara yang mendominasi kehidupan malam dan musik Jamaika sejak 1950 an.

Pada rentang waktu di atas, sajian musik yang dimainkan oleh para pelopor sound system ini sebagian besar adalah repertoire musik mento produksi dalam negeri dan Rhythm & Blues. Materi terakhir diperoleh dari radio-radio dengan gelombang medium-wave, dari Amerika Serikat. Pergeseran tren dari Rhythm & Blues ke Rock N’ Roll di amerika ternyata menjadi sebuah ‘sebab’ yang kemudian mendorong perkembangan fase baru bagi musik musik di Jamaika.
Dari sound system jalanan, budaya ini perlahan bergerak menuju lahirnya The Sound Of Jamaica. Studio rekaman di Jamaika (meski masih terbatas jumlahnya) kini terhubung langsung dengan geliat sound system. Diantaranya, sebuah studio milik produser mento legendaris Stanley Motta dan fasilitas dari radio seperti RJR (Radio Jamaica and Rediffusion Network), JBC dan Federal. Nama terakhir dikelola oleh produser legendaris Ken Khouri sebagai pelopor. Studio ini di kemudian hari menjadi milik Bob Marley melalui label musik nya; Tuff Gong.
Kebersamaan adalah salah satu pesan yang melekat pada aksi aksi sound system. Kolaborasi antara Selector (menggunakan turntable, memutar rekaman), DJ (memegang microphone, berperan sebagai MC) serta Soundman (Penata Suara) adalah manifestasi dari etos kerja sebuah tim. Nama terakhir memiliki peran yang sama krusial dengan Selector dan DJ meski lebih banyak bekerja di belakang layar. Beberapa pelopor soundman pada era ini, yang dikemudian hari memberikan pengaruh pada banyak sound engineer di Jamaika antara lain, adalah; Bill Garnett yang memulai karir nya di radio Federal bersama seorang Australia bernama Graeme Goodall. Bill Garnett berperan besar bagi banyak studio rekaman di Jamaika, di antaranya Randy’s (VP Records) Joe Gibbs dan Harry J bahkan sempat bekerja di studio legendaris Channel One pada awal 1970 an. Sementara, peran Graeme Goodall sebagai mentor terlacak pada kedigdayaan sosok engineer yang melahirkan track klasik proto-deejay produksi Studio One, Sylvan Morris dan tokoh protagonis dub di era awal yaitu Lynford Anderson. Lynford adalah tangan kanan dari Graeme Goodall saat bekerja sebagai engineer di WIRL (West Indies Records Limited) milik Edward Seaga yang kemudian menjadi Perdana Menteri Jamaika.

Bersambung…
(Sam)

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Punky Reggae Party

Edisi Khusus: Punky Reggae Party

Budaya Penuh Deru Di Lantai Dansa

Edisi Khusus: Budaya Penuh Deru Di Lantai Dansa

Ragam Wajah Ska di Indonesia

Edisi Spesial: Ragam Wajah Ska di Indonesia