Prince Buster

Prince Buster mengubah Jamaika dari konsumen menjadi eksportir musik

Pada akhir 1930-an, kota Kingston Jamaika belum melabeli musik dengan nama resmi. Musik tumbuh dari ruang-ruang yang belum disebut dan diakui dalam ranah industri: lorong-lorong dan jalanan, halaman rumah serta keramaian komunitas yang dibentuk oleh tekanan sosial dan ekonomi. Dalam orbit seperti ini, lahir sosok yang nantinya akan membawa perubahan dalam khazanah musik di Jamaika. Prince Buster, yang lahir pada 24 Mei 1938 dengan nama Cecil Bustamente Campbell, nama pilihan orang tua nya. Nama yang menyimpan beban sejarah dan terdengar seperti pernyataan politik: diambil dari Alexander Bustamante, figur besar dalam sejarah Jamaika. 

Di Jamaika pada periode itu, musik adalah variabel yang membawa makna melampaui hiburan. Bagi masyarakat di sana, musik adalah keseharian, perangkat komunikasi, dan manifesto identitas. Prince Buster tumbuh dalam lingkungan yang mendorong seniman untuk berkarya dengan prinsip bahwa hiburan harus juga membawa makna, dan siap untuk diperdebatkan dan dipertaruhkan.

Sebelum memasuki dunia musik, ia dikenal sebagai petinju amatir. Disiplin dari dunia tinju ini membentuk etos kerjanya yang kemudian terbawa ke dalam gerak-geriknya dalam kultur sound system di Jamaika. Pada akhir 1950-an, sound system menjadi pusat distribusi musik di Jamaika. Radio masih didominasi rekaman dari Amerika Serikat, sehingga operator sound system mirip sebuah pusat kuasa, sekaligus kurator yang menentukan apa yang bisa didengar oleh komunitas.

Prince Buster memulai dari dalam ekosistem ini hingga akhirnya ia membangun sistemnya sendiri: Voice of the People. Nama yang membawa makna bahwa sound system adalah medium percakapan sosial yang didorong oleh musik. Di sinilah pengaruhnya mulai terbentuk, sebagai penggerak budaya, seorang pelopor. 

Perubahan besar terjadi ketika akses terhadap rekaman impor mulai terbatas. Dalam situasi ini, para pelaku lokal mulai menciptakan musik mereka sendiri. Sejarawan musik David Katz menjelaskan bahwa keterbatasan tersebut mendorong operator sound system Jamaika untuk beralih menjadi produser, sehingga menciptakan fondasi bagi industri rekaman lokal. Transformasi ini menjadi titik penting dalam sejarah musik Jamaika, dan Prince Buster berdiri di garis depan perubahan ini. Dalam berbagai wawancara, ia selalu menggarisbawahi pentingnya menciptakan musik yang berakar pada pengalaman lokal Jamaika. Keyakinan nya ini berdasarkan pemikiran nya bahwa bergantung pada rekaman impor berarti menyerahkan kendali atas suara sendiri. Visioner.

Dari fase ini, lahir karya-karya awal yang berperan besar dalam membentuk ska. Salah satu yang paling jelas adalah “Oh Carolina” (1960). Lagu ini datang dengan ritme Nyahbinghi dari tradisi Rastafari dengan format musik populer, menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya dalam industri musik Jamaika. Hal ini menjadi sebuah gerbang evolusi musik di sana, juga menjadi inspirasi yang membawa persilangan integrasi budaya lokal ke dalam musik modern.

Prince Buster pun belajar banyak, yang akhirnya membuat dia menguasai peran sebagai produser yang mengendalikan proses rekaman dan distribusi. Posisi ini memungkinkan Prince Buster menciptakan karya sekaligus bersama sistem yang mendukung karya tersebut. Praktik ini adalah pengejawantahan sikap mandiri, langsung, sekaligus menjaga kendali banyak rilisan darinya. Yang akhirnya, membentuk reputasinya sebagai figur yang tegas dan kompetitif di dalam ekosistem sound system Kingston.

Kompetisi itu sendiri adalah bahasa utama dalam sound system. Rivalitas antara Prince Buster dan Derrick Morgan menjadi salah satu episode paling hidup dalam sejarah ska. Mereka saling merespons melalui lagu, menciptakan bentuk awal dari praktik yang kemudian dikenal sebagai musical clash. Musik menjadi arena dialog sekaligus konflik (yang setidaknya, terlihat di permukaan) tanpa kekerasan, mempertaruhkan identitas dan posisi lewat suara. 

David Katz juga mencatat, rivalitas antar artis di Kingston pada masa itu sering kali mencerminkan dinamika sosial yang lebih. Fungsi musik adalah ekspresi identitas kolektif (Katz, 2003). Musik menjadi sebuah arena di mana masyarakat bekerja, bertengkar, dan bernegosiasi dengan diri mereka sendiri.

Pengaruh Prince Buster akhirnya menyebar keluar dari Jamaika. Pada akhir 1970-an, musiknya menjadi referensi penting dalam kebangkitan ska di Inggris melalui gerakan 2 Tone. Band seperti Madness mengangkat kembali energi tersebut dan memperkenalkannya kepada generasi baru. Lagu “The Prince” yang mereka rilis adalah penghormatan langsung kepada sosok yang membentuk imajinasi musikal mereka.

Graham McPherson alias Suggs, frontman dari band ini mengatakan:

“Fakta bahwa dia berasal dari jalanan dan punya selera humor serta energi yang luar biasa, itu sangat menarik bagi kami dan punya dampak besar atas semua yang kami lakukan.”

(Suggs, dalam wawancara BBC, dikutip The Guardian, 2016)

Pengaruh tersebut juga diakui oleh Jerry Dammers, figur sentral The Specials, grup 2 Tone legendaris asal Coventry:

“Dari hip-hop hingga grime, dancehall, dan reggae, sangat sedikit yang tidak dipengaruhi, setidaknya dalam tingkat tertentu, oleh Prince Buster.”

(Jerry Dammers, dikutip The Guardian, 2016)

Meski dalam album lain, setelah Jerry Dammers hengkang dari band legendaris ini, The Specials merilis lagu yang dengan jelas mengkritisi misogynist dalam lirik lagu Prince Buster. Bersama aktivis wanita, Saffiyah Khan, mereka menulis:

The commandments of I, Saffiyah Khan. Thou shall not listen to Prince Buster
Or any other man offering kindly advice In matters of my own conduct.
You may call me a feminazi or a femoid, And then see if I give a stinking shit”

(The Specials - 10 Commandments (Encore, 2019)

Pernyataan dan fakta ini menjelaskan bahwa pengaruh Prince Buster dipahami mulai dari rekaman, hingga karakter dan energi yang ia proyeksikan. Ia bisa dipuja sekaligus di tolak. 

Di sisi lain, gaya bernyanyi Prince Buster menjadi kontribusi penting dalam konteks ekspresi musik Jamaika. Ia menggunakan gaya ‘setengah-ngobrol’ dalam beberapa rekamannya, sebuah gaya yang kemudian berkembang dalam praktik toasting di budaya sound system. Teknik ini menjadi salah satu fondasi ekspresi vokal yang berpengaruh hingga ke berbagai bentuk musik modern. Perkembangan ini memang tidak mutlak sebagai warisan darinya, ada nama lain seperti Count Machuki, yang dikenal sebagai pelopor teknik deejay. Namun, kontribusi Prince Buster bisa dicatat sebagai bagian penting dalam fase awal evolusi tersebut, terutama dalam membuka ruang bagi bentuk ekspresi yang lebih bebas dan ritmis.

Memasuki akhir 1960-an, dinamika musik Jamaika mulai berubah dengan munculnya reggae. Dinamika alami dari setiap evolusi budaya yang setiap fase nya melahirkan suara dan figur baru, posisi Prince Buster pun perlahan bergeser dari orbit nya.

 Bahwa Bob Marley kemudian dikenal sebagai wajah global reggae, adalah fakta. Begitu juga fakta bahwa operasi awal yang lebih keras baik dari karakter industri dan bahasa musikal yang masih dibentuk dan bergantung pada individu di Jamaika, telah mencatat sumbangsih elementer dari Prince Buster. 

Warisan Prince Buster, salah satunya adalah kontribusi nya yang fundamental terhadap sebuah sistem yang ia bantu ciptakan. Ia adalah bagian dari generasi yang mempelopori cara musik Jamaika diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi. Sesuatu yang kemudian jadi blueprint bagi banyak musisi dan penyanyi setelahnya.

Prince Buster, sosok musisi kontroversial yang menjadi pondasi dasar berkembangnya musik Jamaika menjadi kekuatan budaya baru meninggal pada 8 September 2016 di sebuah rumah sakit di Miami, Florida, akibat komplikasi jantung. The Prince, meninggalkan warisan visioner. Sesuatu yang selalu melangkah tegas dan selalu punya lintasan jauh ke depan, One Step Beyond!

(Teks: Keyko, Editor: Sam)

Tags:

  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *