King Masmus dikenal sebagai salah satu penampil di negeri ini yang kerap membuat karya nya dibiarkan membawa pesan multi tafsir. Satu hal yang jadi konsistensinya, ia adalah sebagian dari scenesters Jamaican sound di negeri ini yang selalu membawa warna beragam lewat repertoire yang ia ciptakan. Lewat lirik dan judul penuh isyarat, potongan-potongan frasa pemicu pertanyaan, ia memilih strategi yang tidak langsung terbuka. Ia menciptakan potongan puzzle bagi pendengarnya. Yang akhirnya membuat musik yang ia produksi langsung membawa rasa untuk para pendengar.

Obat, Kurma, dan Hal-hal yang Tidak Perlu Dijelaskan
Reggae bagi King Masmus bukan sekadar genre. Itu obat.
“Musik itu obat. Dengan bermusik kita berobat. Yang paling manjur itu Reggae. Sejak kapan? Ya sejak mengerti. Kapan terhubung, itu otomatis.”
Ia meyakini bahwa rasa akan selalu menjadi trigger lebih untuk ia memulai karya bukan teori musik. Dan baginya, ini adalah medium penyembuhan. Yang dengan ringkas, ia simpulkan bahwa itu adalah makna reggae baginya.
Cara pandangnya terhadap orisinalitas cukup menarik. Dalam memaknai reggae di Indonesia, ia punya pandangan sendiri. Lagi lagi, dia rangkum dengan karakter nya yang melekat, usil dan jenaka:
“Yaaa… Aku dan kalian tidak tinggal di Arab, tapi, percaya kurma nya kan?”
Sebuah analogi yang terdengar ringan memang, tetapi ini menjadi sebuah pemantik untuk mendorong ruang baru agar boleh bertumbuh tanpa perlu eksklusivitas empirikal. Dengan kata lain, ia percaya bahwa validasi geografis bukan hal utama untuk menjadi musisi reggae.
“Reggae itu genre musik. Indonesia itu kumpulan bangsa-bangsa. Ya gaya hidupnya Indonesia saja.”
Ia mengajak berhenti menciptakan definisi, yang seringkali malah menghapus esensi lewat penjelas penjelasan itu. Baginya, mungkin, tidak semua hal memang perlu dijelaskan.

Rasa, Rahasia, dan Ruang Tafsir
Masuk ke wilayah lirik, King Masmus seperti sengaja menjaga jarak dari keinginan untuk membuka semuanya. Ketika banyak musisi merasa perlu menjelaskan proses secara eksplisit demi sejalan dengan algoritma, ia memilih untuk menciptakan pintu-pintu yang tertutup agar orang lain mengintip dari celah.
“Itu rahasia.” Jawaban yang singkat sekaligus sikap yang tegas. Ada bagian dari proses yang lebih kuat ketika dibiarkan tetap menjadi misteri.
“Pesan itu bisa jadi pesanan, rasa tidak pernah berkhianat. Aku adalah rasa.”
Kalimat itu seperti garis tegas yang memisahkan dua hal yang sering dianggap sama. Pesan bisa dirancang, bisa diatur, bahkan bisa diproduksi. Tapi rasa, menurutnya, tidak bisa dipalsukan. Ia hadir atau tidak sama sekali.
Dalam konteks sound system culture, pandangannya bahkan terasa lebih luas dan tidak baku. Ia tidak terlalu sibuk pada teknis, tidak juga terpaku pada standar yang sering dianggap wajib.
“Ga terlalu penting, anda bisa ya bisa, enak ga enak urusan belakang.” Seolah ingin menegaskan bahwa keberanian untuk hadir jauh lebih penting daripada kesempurnaan teknis. Bahwa musik bukan hanya soal benar atau salah, tapi tentang keberanian untuk bersuara.
Keberanian untuk melihat batas antara menghargai dan meniru sebagai sesuatu yang cair adalah salah satu yang ia garisbawahi dalam sesi tanya-jawab ini.
“Meniru itu ga masalah, tapi.. yang cerdas.” Di tangan yang tepat, tiruan bisa menjadi bentuk pembelajaran. Bahkan bisa berkembang menjadi sesuatu yang baru. Yang menjadi soal bukan tindakan menirunya, tetapi bagaimana kesadaran di baliknya.
Ketika berbicara tentang lirik yang personal, ia lagi-lagi menjelaskan dengan gaya cryptical,
“Kitab turun untuk ditafsirkan, apalagi kita.”
Sebuah pernyataan yang membuka ruang tafsir selebar mungkin. Ia tidak meminta pendengar untuk memahami secara seragam. Ia selalu menyediakan ruang tafsir, bukan sebuah perayaan atas penjelasan tunggal dalam karya-karyanya.

Sukacita dalam gaya jenaka
King Masmus tidak berjalan dengan pola yang kaku dalam berkarya. Keresahan, justru bisa menjadi bagian dari perjalanan.
“Resah itu pertanyaan harian, tenang itu cara menemukan jawaban.” Ada siklus yang terus berputar di sana. Keresahan sebagai pemicu, ketenangan sebagai penjawab. Keduanya tidak saling berdebat untuk membatalkan, keduanya saling melengkapi.
Ia juga tidak merasa memiliki fetishism tentang definisi absolut dimana karya itu dianggap selesai. Baginya, cukup adalah ukuran yang lebih relevan daripada sempurna. “Kalau sudah cukup ya cukup, toh nanti ada yang cover lebih oke sejalan era.”
King Masmus tahu: begitu keluar dari tangannya, karya bukan miliknya lagi. Ia boleh berubah. Boleh berkembang. Bahkan boleh menjadi lebih baik di tangan orang lain yang baginya adalah sebuah perjalanan.
Reggae baginya tetap musik. Bukan seragam gaya hidup. Bukan untuk memuaskan siapa pun.
“Kita hanya bersuara atau menyuarakan.”
Di tengah industri yang serba cepat dan rapuh, ia tetap tenang.
“Industri tidak pernah abadi. Senimannya lah yang terus menghidupi.”
Tentang masa depan lagunya, termasuk “Vegan Vegetarian” yang terus hidup di berbagai versi, ia hanya berkata:
“Yaaa.. terserah mereka. Wassalam.”
Signature jenaka dan usil King Masmus ini tersemat dalam track “Vegan Vegetarian” yang hidup dalam berbagai versi dan interpretasi lintas genre. Lagu itu seperti menemukan jalannya sendiri, berpindah dari satu tangan ke tangan lain, tanpa kehilangan denyut awalnya. Sebuah ruang yang ia ciptakan tanpa ia sadari, sebuah karya yang memang bisa membuat pendengar berhenti, mendengar dan akhirnya melahirkan pertanyaan.
Pada akhirnya, King Masmus tidak sedang membuat musik untuk dimengerti sepenuhnya. Ia hanya menciptakan ruang, lalu membiarkan siapa pun yang masuk ke dalamnya merasakan sesuatu. Tidak selalu jelas, tapi cukup untuk membuat orang berhenti sejenak dan bertanya dalam hati, dan tentu, sambil menikmatinya!
(Wawancara: Keyko, Editor: Sam)



Show Comments