SUBCAMP 2026

Nakhon Nayok - Thailand

Apa yang dibawa SUBCAMP pada 2026 adalah kejernihan sikap: kultur sound system Asia Tenggara yang dibentuk oleh akar Jamaika, kini berdiri tegak dan berbicara dengan bahasanya sendiri.
Pesona dari SUBCAMP terletak pada interpretasi atas sound order. Selama tiga hari, festival ini bergerak dengan sabar serta memberi ruang bagi setiap sesi untuk membagikan daya dan suasananya sendiri. Getaran dijaga dan dibentuk secara sadar, mengantarkan budaya sound system mengalir sebagai siklus meditasi sekaligus sebuah pelepasan. Sebagai salah satu mitra, Kultur ingin membagikan laporan ini.

Photo courtesy: SUBCAMP 2026
JUMAT, 23 Januari

Hari pembuka terasa lebih mengutamakan pijakan dibandingkan kejutan instan. Sesi-sesi sore hari berfokus pada kesadaran ruang dan seruan untuk mendengar dengan khidmat. Sybren Rosseel dari Totem Powah Sound, mewakili garis dub Belgia yang dalam, membuka SUB ARENA dengan seleksi meditatif yang dibentuk oleh gema, keheningan, dan frekuensi rendah yang tertahan. Sebuah seleksi yang “bernapas” perlahan, memberi waktu bagi penonton untuk menyatu dengan suara dan lingkungan—mengingatkan pada pendekatan Jamaika, di mana ruang sama pentingnya dengan bass.

Fondasi ini kemudian diperlebar oleh Roadblock Dub Collective, trio asal Lampung, Indonesia. Modus operandi musik eksperimental mereka adalah memperlakukan dub sebagai proses yang hidup: ragam tekstur yang bergerak, dinamika yang dibuat berbelok, dan struktur baku yang bisa runtuh tanpa peringatan. Bangsaen Dub melanjutkan alur secara mulus, membawa pesona pesisir dari skena Thailand bagian timur. Produksi orisinal mereka mencerminkan tafsir lokal yang khas dengan kaidah dan prinsip-prinsip musik Jamaika, sementara kolaborasi mereka dengan Sami dari Roadblock Dub Collective menjadi penanda awal dialog lintas skena dalam perayaan festival ini.

Photo courtesy: SUBCAMP 2026

Saat cahaya siang mulai pudar, tekanan perlahan meningkat. Wicked T, salah satu figur paling aktif dalam lingkup steppa Thailand, memperketat ritme dan memperkuat energi lantai dansa. Momentum ini diperkuat oleh Praise Jah Sound, yang menghadirkan disiplin steppa ala Rusia lewat struktur militan dan dorongan yang terus ke depan, mengunci tubuh-tubuh berdansa dalam gerak yang sinkron.

Miroll dari LDC Sound System, yang berbasis di Malaysia, kemudian mengambil kendali melalui seleksi berbasis dubplate yang disajikan dengan kejernihan dengan arah jelas, menghormati keagungan sound system Jamaika. Tekanan terus berlanjut lewat Rub A Dub Hi Fi, mewakili tradisi sound system ala Irlandia, memadukan gaya warisan legenda dengan steppa modern yang presisi.

Sesi-sesi larut malam menyoroti kolaborasi dan eskalasi. Muangake Sound System, bersama Katahtoni dari Spanyol, menjembatani estetika steppa Eropa dengan energi raw khas Asia Tenggara. Green King Cuts, operator asal Inggris, membuat arena terasa lebih dalam lewat mixing tajam bak alarm, yang menuntut untuk menjaga lantai dansa tetap padat dan bergerak.

Bab penutup hari Jumat mengubah tempo secara tegas. Mantasticmate dari Javabass Sound System, figur penting dalam skena lintas-genre bass Indonesia, memasukkan jungle dan drum & bass ke dalam kerangka sound system. Didukung oleh MC Tom Spirals, Dave Baransano, dan King Kong Killa, sesi ini meledak dalam ekstasi berkecepatan tinggi—sebuah pemanasan penuh energi untuk hari berikutnya.

SABTU, 24 Januari

Hari Sabtu menegaskan bahwa energi SUBCAMP tidak butuh kalibrasi. Di SUB YARD, Dapookster a.k.a. The Sticky Rice, sosok yang akrab di komunitas selector Thailand, meramu sesi pagi yang irie dan perlahan membangun kembali lantai dansa.

Eskalasi meningkat lewat Amplifyah Sound System, membawa estetika dubplate khas Prancis di siang hari. Papa Kai dan Duffin Jame, tokoh penting dalam gerakan reggae dan sound system Thailand, menyusul dengan set panjang yang menyeimbangkan kesadaran roots dan gaya kontemporer. Aman Damai Sound, dengan energi sound system Johor Bahru, menyuntikkan bounce langsung, sebelum JB Sound System menutup sesi yard dengan steppa agresif yang jelas mengarah ke wilayah lebih berat.

Pembukaan kembali SUB ARENA memperluas spektrum. Fever Sound—melalui Iqbal Djoha, Gilangfitzz, dan Philiponk, didampingi MC Yon D—menyalurkan tradisi selector dalam gaya Jakarta lewat ska, rocksteady, dan early reggae, menegaskan kembali musik Jamaika sebagai tulang punggung seluruh ekosistem. Selecta Kuggah segera menaikkan suhu, memperketat ritme dan meningkatkan keterlibatan fisik.

Kontras yang lebih halus hadir melalui Yugo Taguchi, dengan penekanan pada keseimbangan, musikalitas, dan kontrol. Ketenangan ini kemudian digeser secara sengaja oleh Gonja HiFi—menampilkan King Kong Killa, Jan Up, dan Yella Sky Sound—bersama pertunjukan tari dari FLOWTONE, menyatukan bass dan gerak dalam pertukaran yang sepenuhnya berwujud.

Bun Bun the MC, figur yang lama dihormati di lingkaran reggae Jepang, menguasai arenad lewat spektrum vokal. Sorotan teknis hadir lewat An Dannsa Dub, proyek live dub yang berbasis di Skotlandia, mereka menyajikangaya manipulasi perangkat keras secara langsung membentuk ulang bassline secara real time, menegaskan bahwa dub adalah sebuah proses yang terus berkembang.

Tekanan malam mencapai puncak lewat Hanamercy, membawa bobot dan intensitas bergulir yang berakar dari Inggris, disusul Sinai Sound, yang reputasi steppanya dikenal tanpa kompromi menjelma menjadi sebuah sebab membuat lantai dansa makin padat. Jony Maddkidz, representasi gerakan dub kontemporer Malaysia, menghadirkan tensi yang terukur dan menutup malam dengan kegembiraan kolektif.

Photo courtesy: SUBCAMP 2026
MINGGU, 25 Januari

Hari Minggu dibuka dengan suasana intim. Di SUB YARD, Olbi Iyah dan Bongo D, yang kembali dipertemukan melalui Jam Jah Sound dari Birmingham, menyajikan sesi hangat dan komunikatif yang berakar pada sejarah dan akar tradisi. Ras Rei dan Budball, dari realm underground reggae Makau, menjaga bassline tetap solid sepanjang pagi.

Kehangatan yang perlahan meningkat kembali hadir lewat Oomboi Lauw, perwakilan steppa dari Belanda yang menekankan kontrol dan groove kelas berat, disusul Selecta P, yang membawa kultur dubplate Singapura melalui seleksi yang sepenuhnya eksklusif. 46.000 Bwoy Sound System, salah satu kru paling khas dari Thailand—mudah dikenali lewat speaker ungu mereka—menegaskan otoritas pemandu lantai dansa dengan pendekatan yang playful.

Rangkaian akhir di panggung utama tak memberi ruang kompromi. Chakka C, mewakili pergerakan steppa Hong Kong, membuka dengan seleksi yang begitu solid dan padat. Dave Baransano, representasi kuat dari pesona reggae Pasifik Papua, membawa kehangatan dan kedalaman melodi. MonkeyKing420, bersama Dubdah Sound System, menyuntikkan energi dancehall mentah yang berakar kuat pada tradisi Jamaika. Million Cat Hi Fi, melalui BIMJO dan JAHMON, kembali memainkan fondasi steppa dan menghidupkan ulang lantai dansa.

Bim One Production “1TA”, nama besar dalam skena dub Jepang, menghadirkan kejernihan, daya, dan kontrol yang penuh pesona. Puncak terakhir hadir lewat OBF x Iration Steppas, menyatukan Prancis dan Inggris dalam sesi 150 menit penuh bassline menggelagar tanpa henti. Momen ini semakin berkesan saat Rico dari OBF dan Mark dari Iration Steppas merayakan ulang tahun mereka bersama di atas panggung—mengubah sesi penutup menjadi ritual milik semua di lantai dansa.

Photo courtesy: SUBCAMP 2026

Penutupan malam diserahkan kepada Daddy Nature dari Rompa’s Reggae Shack, yang membawa gaya bijak selector sebagai penutup, tenang dan bermartabat—menutup lingkaran di mana filosofi Jamaika bertemu gema Asia Tenggara.
(Keyko,Sam)

  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

George Palmer x Lion D x Irie Ites “Come We Just A Come”

Produser mumpuni asal Prancis, Irie Ites, kembali merekonstruksi ulang sebuah riddim rub a dub ...