Eksentrik adalah kata sifat yang melekat, termaktub dalam nama Eek-A-Mouse. Ia tidak pernah bernyanyi seperti orang waras. Lagu “I Want to Know” adalah bukti terbaik atas keputusan yang tepat, yang tentunya dia buat secara eksentrik.
Dirilis 1983 dalam format 12 inci terbatas di Amerika Serikat, track ini adalah artefak dari momen paling fertile dalam sejarah reggae dancehall: ketika roots mulai melepas jubah spiritualnya dan bergerak ke lantai dansa. George Phang — arsitek di balik era Power House — memproduksi riddim ini dengan pondasi yang dibangun oleh Sly Dunbar dan Robbie Shakespeare. Groove-nya dalam, berat, begitu padat tanpa ruang untuk bernafas di tempat yang salah. Di atas konstruksi itu, Eek-A-Mouse meluncurkan frasa-frasa singjay-nya yang eksentrik — bagian nonsense, bagian prophecy, yang well, tidak bisa ditiru siapa pun.

Empat puluh tahun tersimpan di koleksi vinyl para kolektor, kini “I Want to Know” di remastering dan masuk ke seluruh platform digital. Energi analognya tetap ada dan membawa ruang lebih jernih. Rilisan ini juga membawa versi Discomix 12 inci dan dub mix “Creeper” — nama yang tepat untuk sebuah versi yang merayap pelan, menunjukan kerangka riddim yang selama ini tersembunyi di balik vokal.
Rekaman ini sebetulnya terdengar sebagai ironi besar, karena ini jadi sebuah pengingat bahwa arsip reggae era rub-a-dub masih menyimpan banyak harta karun yang masih dan perlu kita dengar.
(Teks: Keyko, Editor: Sam)



Show Comments