Masia One

Keyakinan, Hasrat dan Semangat Inspiratif

Kali ini, kultur mendapatkan kesempatan untuk melakukan sebuah sesi tanya jawab dengan salah satu panutan skena Jamaican Sound kawasan Asia Tenggara. Seorang lulusan arsitektur, seniman, penulis lagu, guru seni, dan seorang direktur kreatif. Ia adalah sosok yang dengan penuh daya selalu menyuarakan keindahan yang ia yakini. Sebuah semangat yang kemudian membuatnya dikenal sebagai Permaisuri Jamaican Sound dari Asia Tenggara. Satu satunya milik Asia Tenggara, Masia One!

Sebagai seorang rapper, pernah bekerjasama dalam musik dengan Pharrell Williams, apa yang membuatmu beralih ke musik Jamaika?

Hiphop adalah cinta pertama saya. Tetapi saya juga datang dari sebuah skena di Toronto (Kanada), di mana banyak ragam Hiphop, Reggae dan Dancehall sangat sering dimainkan bersama. Banyak orang tidak menyadari bahwa musik dan budaya Jamaika memunculkan musik rap seperti yang kita kenal sekarang. Salah satu pendiri Hiphop, Kool Herc seorang berdarah Jamaika, kerap mengunjungi Jamrock untuk melihat artis “menyalakan rima”. Dia membawa ide ini kembali ke Amerika di mana dia hanya memainkan “break”, atau bagian instrumental, dari sebuah sebuah rekaman untuk rapper dan penari agar bisa melakukan rap dan berdansa.

Saya merasa begitu penuh berkah bisa bekerja selama 3 tahun pada industri musik di L.A. Bahkan bisa berkolaborasi dengan beberapa pahlawan musik terbesar bagi saya. Saya menulis lirik untuk banyak artis lain. Lalu saya memutuskan untuk beristirahat dari situ dan ingin fokus pada diri saya sebagai seorang seniman lagi.

Tradisi kuat musik Jamaika saya dapatkan dari saudara laki laki saya yang memutar album album Peter Tosh, Black Uhuru dan Toots and the Maytals saat saya masih kecil. Hal ini juga menjadi keputusan saya untuk mengisi jeda istirahat saya dari industri musik, namun ternyata jeda ini lebih lama dari yang saya rencanakan.

 

Apa yang kamu lihat dalam Reggae dan Hip hop, dan apa yang dipelajari dari dua hal tersebut untuk karir musik mu sejauh ini?

Kecintaan saya pada Hip hop bukan hanya untuk menjadi seorang rapper, tetapi untuk mengekspresikan diri saya dengan cara yang sangat berani dan penuh keyakinan, berbicara jujur, dan menjadi kreatif. Ketika saya mulai menjelajahi musik Reggae, semua elemen yang sama yang saya sukai ada di dalamnya; sama seperti Hip hop, artis Reggae itu unik dan tidak takut untuk mengungkapkan kebenaran yang mereka yakini dan mengekspresikan gaya mereka.

Rapper bisa sangat egosentris saat tampil, ingin orang mengagumi keterampilan lirikal mereka. Sesuatu yang saya pelajari dari Reggae ketika menonton pertunjukan artis Jamaika, mereka selalu berbagi energi dan getaran dari kerumunan, membawa momentum itu. Selama saya di Jamaika, saya rasa kecakapan pertunjukan saya menjadi lebih baik karena saya belajar bagaimana berkomunikasi dan memberi energi kepada audiens saya, bukan hanya mencoba membuatnya menjadi tentang diri saya dan keterampilan saya.

 

Sebagai negara dengan populasi yang cukup kecil, bagaimana perkembangan musik Jamaika di Singapura? Dan genre musik Jamaika apa yang berkembang di sana?

Di Singapura saya pikir dengan generasi muda saat ini, Dancehall mungkin adalah gaya yang paling populer terutama untuk dansa dan karena itu fusi dalam musik populer saat ini, dengan nama-nama seperti Major Lazer, MIA, atau Justin Bieber dan Ellie Goulding dengan lagu-lagu hit yang mengandung unsur dancehall. Ada juga pengikut setia dari sisi sidestream Roots Reggae, Ska & Trojan Sound, serta Dub dengan beberapa kolektif musik soundsystem. Hal yang menyenangkan tentang Singapura adalah bahwa ia menjadi international hub, dimana banyak seniman biasanya singgah – kami pernah dikunjungi seniman Karibia seperti Shaggy, The Wailers, Jimmy Cliff, Estelle, dan bahkan Rihanna tampil di acara berskala besar.

Orang tidak tahu bahwa Singapura dan Jamaika memiliki banyak kesamaan. Sir Stamford Raffles, yang dikreditkan sebagai “Founding Father” Singapura sebenarnya lahir di Jamaika. Kedua negara yang berada di bawah kekuasaan Inggris, dan memperoleh kemerdekaan mereka dalam selisih waktu 3 tahun, Jamaika pada tahun 1962 dan Singapura 1965. Sebenarnya Lee Kuan Yew mengunjungi Jamaika untuk belajar dari pulau kecil di Karibia ini, dan dia sebenarnya dikagumi oleh banyak politisi Jamaika. Banyak orang hanya akan melihat betapa berbedanya Singapura dan Jamaika, dan seberapa jauh mereka satu sama lain. Saya mengutarakan ini agar kita dapat merayakan kesamaan dan berbagi sejarah dan menyadari bahwa di seluruh dunia kita tidak begitu berbeda satu sama lain.

 

Bisa sebutkan beberapa produser, musisi atau band dari Singapura yang konsisten menjalankan musik Jamaika di sana?

Kami dulu lebih aktif saat mengadakan acara Singapura Dubclub namun sejak pandemi kami lebih fokus pada kegiatan online. Tentu saja saya harus menyebutkan band pionir Reggae Singapura “The Bushmen” dan “Sunday Reggae Nights” yang terkenal di Hardrock Singapore. Ada kolektif seperti Soul Vibes Asia, Singapore Soul, Dub Skankin’ Hifi, Lion Steppaz Sound, Afrodisia.sg dan DJ seperti ALX, Tom Shellsuit, DJ JnR, DJ Justo, Jean Reiki, Eden YC, Durio (Attagirl), Darren Dubwise, Submerge, DJ Ken, Ras Irie, Sham Em, Yooh the Vibration yang membuat nuansa Reggae tetap hidup di Kota Singa. Skena dansa juga kuat dengan penari seperti Ragga Waka yang tampil dan mengajar Dancehall hampir setiap hari dalam seminggu.

Masia One, beberapa kali ikut tampil di festival-festival besar di banyak negara seperti India, Jepang, Thailand, Malaysia dan lain-lain. Festival apa yang paling berkesan bagi Masia One? Mengapa?

“Burning Man” berkesan bagi saya. Mengajarkan saya bahwa apa pun yang dapat dibayangkan dapat dilakukan. Selama festival ini saya melihat gurita siput raksasa 3 lantai, juga menikmati sistem tata suara berkepala singa yang dirancang untuk bergerak di padang pasir. Meskipun musiknya didominasi EDM, saya melakukan rap atau “singjay” dalam ritem Dubstep atau musik elektronik dan orang-orang menyukainya – kerumunan penikmat musik ini sangat berpikiran terbuka dan menyambut hangat gaya dan fusi-fusi baru.

Saya juga sangat menyukai Goa Sunsplash, sebuah Festival Musik Reggae yang terorganisasi dengan sangat baik, dengan pengisi acara yang sangat dihormati dari Jamaika, Eropa dan seluruh Asia, pertunjukan luar ruangan yang indah, dengan sistem suara paling gila yang dibangun dengan 10.000 Sistem Suara berkepala singa.

 

Sebagai salah satu dari sedikit raggamuffin yang beraksi di Asia Tenggara, juga dikenal fasih dalam patois Jamaika, adalah fitur bagus dari Masia One, pernahkah terpikir untuk memakai fitur emas ini untuk babak lain dalam karir mu?

(Hahaha, saya tidak yakin saya mengerti pertanyaan ini, saya akan coba menjawab dengan baik)

Kembali ke Asia Tenggara memungkinkan saya untuk terhubung kembali dengan akar saya. Saya kagum betapa besarnya musik Dub di Vietnam, atau Roots Reggae di Malaysia & Thailand dan Ska atau Rocksteady di Indonesia. Masuk akal karena Asia Tenggara adalah wilayah kepulauan, dan musik Raggamuffin adalah musik pulau. Tempat favorit saya untuk memainkan musik Reggae adalah di Indonesia dan saya berharap suatu hari nanti saya dapat mengunjungi lebih banyak pulau. Pertunjukan pertama saya di Jakarta, seorang penggemar berkata kepada saya “Masia One kamu orang Indonesia” dan saya mengoreksinya dengan mengatakan “Tidak, saya lahir di Singapura”, tetapi dia mengatakan kepada saya “Saya yakin, kamu orang Indonesia.” Kemudian saya bercerita dengan ayah saya dan mengetahui bahwa nenek buyut saya berasal dari Bandung dan saya memiliki banyak ikatan darah dengan Indonesia. Hubungan berakar yang saya rasakan ini mendorong saya untuk menjalankan label saya “Nusantara Records”, untuk mengatakan bahwa kita semua satu darah, dan untuk merayakan suara unik dari wilayah (APAC) kita.

Kami melihatmu sebagai salah satu scenester dancehall. Apakah Masia One menggunakan hal ini sebagai sarana untuk membebaskan diri, dalam hal dominasi laki-laki baik dalam musik dan society?

Pertanyaan yang menarik. Saya pikir apa yang saya sukai dari dancehall adalah bahwa di Jamaika, pesta dansa terbesar dan paling menarik akan terjadi tepat di jalanan yang mungkin adalah tempat parkir di siang hari, tapi di malam hari mereka membawa sound system, perangkat lampu-lampu serta orang-orang berkumpul untuk memamerkan fashion dan gerakan tarian baru mereka. Tempat parkir yang kemudian berubah menjadi tempat pesta terbesar di dunia. Ini mengajari saya bahwa, dengan orang dan sikap yang tepat, adalah mungkin untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan menjadi ada.

Seperti semua orang, saya memiliki suasana hati yang berbeda, jadi ketika saya dalam suasana ruang dansa, saya suka bahwa saya dapat sepenuhnya ekspresif, seksi, penuh gaya, kreatif, dan berani. Ini adalah inti dari musik dancehall – ini semua tentang sikap dan gaya yang unik.

 

Ada perdebatan tentang bagaimana budaya dancehall dan musik mempromosikan maskulinitas dan skrip hegemonik yang didasarkan pada stereotip seksualitas perempuan kulit hitam. Tapi di lagumu seperti ‘Jamaican Flava’ kamu melakukan yang sebaliknya. Sama seperti Lady Shaw dan Tanya Stephen yang menunjukkan bahwa wanita juga bisa bebas berekspresi seperti pria. Tidak terlalu gamblang dan lugas, tapi sepertinya kamu bisa dan bebas mengutarakan keinginan wanita Asia atas pria kulit hitam? Apa pendapatmu tentang ini?

Jelas BANYAK misogini dan lirik negatif dalam dancehall yang berkontribusi pada munculnya perilaku tidak sehat seperti seksisme, pelecehan seksual, dan ragam kekerasan. Hal ini juga berlaku dalam musik Hip Hop, di mana ia bisa sangat materialistis atau dapat mengekspresikan kepositifan dan kesatuan. Saya memiliki posisi unik sebagai seniman yang telah bekerja di genre yang didominasi pria ini selama lebih dari 10 tahun, jadi saya selalu tertarik untuk melangkah ke “arena” dan mematahkan stereotip. Saya benar-benar menghadapi banyak prasangka dan rasisme sepanjang karir saya, tetapi saya juga bertemu banyak penggemar yang berterima kasih kepada saya karena mengizinkan seorang wanita dan wajah Asia untuk naik ke panggung, memegang mikrofon dan menunjukkan kepada anak-anak ini apa yang dapat dilakukan seorang wanita, atau mengekspresikan lirik dari sudut pandang perempuan yang sering tidak terdengar. Saya pikir dengan kesempatan unik ini, saya dapat berbagi pesan dengan cara yang tidak terduga dan semoga membantu mendorong lebih banyak persatuan dan koneksi positif melalui musik. Contohnya pada tahun 2020 saya merilis lagu “Not All That Glitters is Gold” yang merupakan lagu Reggae yang membahas tentang pelecehan seksual di industri musik. Karena pengikut saya sebagian besar adalah pria, saya dapat menjangkau audiens yang mungkin tidak terlalu sering mendengar pesan ini dalam musik Reggae, dan membantu mereka mempertimbangkan pesan-pesan ini, suara dari pelaku Reggae wanita.

Pendekatan saya adalah untuk selalu menghormati budaya, dengan belajar lebih banyak tentang para pendahulu dan warisan mereka, tetapi pada akhirnya untuk musik saya sendiri, saya kurang melihat kategori seperti Hiphop, Dancehall, Reggae, dan lain lain. Lebih condong bagaimana saya ingin membuat orang merasa atau pesan yang ingin saya bawakan apa pun gayanya. Bagi saya, saya hanya ingin membuat musik yang membuat orang merasa berani…musik kebebasan. Jadi ini bisa Reggae, Hiphop atau Dancehall.

Masih bersinggungan dengan pertanyaan sebelumnya. Apakah Kamu melihat pria Jamaika itu “eksotis?” [Sama seperti musik, tarian, makanan, dan budaya, rasa Jamaika]. Apakah hal hal menarik dari pria asal Jamaika adalah wujud lain dari ketertarikan terhadap otentisitas yang kamu rasa  bisa membantu memaknai “rasa” Jamaika?

Saya dibesarkan di Kanada (Toronto memiliki populasi India Barat yang sangat besar), bekerja di New York dan LA dan akhirnya tinggal di Jamaika selama 5 tahun. Saya tidak melihat laki-laki Jamaika sebagai “eksotis”.  Bekerja di industri musik Amerika dan Jamaika, saya mengalami sebaliknya, di mana perempuan Asia dipandang eksotis.

Saya pikir, berbahaya untuk melihat sesuatu sebagai eksotis, berhentilah di situ, karena kamu akan mulai mengkomodifikasi hanya hal-hal di permukaan seperti penampilan dan stereotip.

Saya pikir hubungan lebih dalam yang saya punya terhadap cita rasa Jamaika adalah saat saya mendapatkan pengalaman mengajar anak-anak di Kingston dan memahami bahwa ketika mereka tumbuh dalam kondisi kemiskinan dan kekerasan yang sulit, bakat dan kepercayaan diri mereka akan membantu mereka mengubah situasi mereka. Pengalaman otentik saya di Jamaika, dari banyak orang baik yang merawat saya, pergi ke semua festival dan pesta jalanan, hingga mengalami keindahan dan sisi alami pulau ini membantu saya terhubung dengan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada pria atau wanita. Jah Guide!

 

India dan Jepang adalah salah contoh dari dua negara di Asia yang berhasil mempromosikan kancah musik Jamaika mereka. Bagaimana pendapatmu tentang skena musik Jamaika di Asia Tenggara? Hal-hal yang harus atau tidak kita lakukan dari mata Masia One mungkin?

Otentisitas: Saya pikir mudah untuk jatuh cinta dengan budaya, mode atau kesenangan, tetapi saya akan mendorong para scenesters untuk menggali lebih dalam alasan MENGAPA musik itu dibuat. Misalnya Reggae adalah suara ‘kaum tertindas’, dengan banyak lirik tentang ketidakadilan dan kesulitan yang dihadapi orang-orang. Ska dimulai sebagai pengaruh musik American Rhythm dan Blues yang melanda Jamaika – namun karena musik Amerika lebih merupakan konsumsi ‘kelas atas’ untuk orang Jamaika yang lebih kaya, di luar kelas itu, mereka membuat adaptasi unik versi mereka sendiri. Ketukan yang lebih cepat, tarian tersendiri dengan semangat kerakyatan. Begitu kita mampu menghormati para pionir dan mempelajari sejarah musiknya, di Asia Tenggara kita bisa melakukan hal yang paralel, dan kita bisa menyatu dengan skena secara lebih dalam, membawa suara, budaya, dan lirik khas Asia Tenggara dalam genre ini. Saya percaya ini akan menciptakan gerakan yang bertahan lebih lama daripada sekedar tren yang hanya mengimitasi.

Platform: Saya menyukai apa yang Kultur bagikan, karena saya yakin kita memiliki begitu banyak artis berbakat di Asia Tenggara, tetapi tidak cukup platform yang merayakan suara unik ini. Seringkali siaran arus utama diberikan kepada musik Amerika atau label besar, dan publik tidak memiliki kesempatan untuk belajar tentang bakat dari daerah mereka sendiri. Jadi saran saya adalah bekerja sama membangun lebih banyak platform dan komunitas untuk merayakan budaya musik yang kita cintai meski arus utama tidak menawarkan dukungan itu untuk kita. Saat ini saya sedang mengembangkan usaha “Jamaican Jerk Sauce” saya sendiri, Suka Suka Sauce, supaya menjadi platform bagi lebih banyak musisi Reggae Asia Tenggara untuk berbagi musik mereka.

Mengubah Stereotip Negatif: Saya terkejut bahwa ada stereotip yang melekat pada musik Reggae di Asia Tenggara seperti asosiasi negatif musik dengan narkoba, orang yang kurang mampu dan terkadang rasisme terhadap warna kulit lain. Saya pikir penting bagi seniman dan para scenesters untuk menyadari persepsi buruk ini dan mulai menjadi contoh positif bagi masyarakat untuk merubah persepsi negatif mereka. Ada sebuah kisah, seseorang mengatakan kepada saya “Reggae hanyalah musik orang miskin”, saya lalu memesan tempat-tempat mewah seperti Potato Head, Ce La Vi di MBS dan Tajong Beach Club untuk event event milik Singapura Dubclub, agar orang orang dengan pikiran tersebut menjadi sadar bahwa, Reggae adalah untuk semua orang.

 

Pernah menetap di Jamaika, pelajaran berharga apa yang dipelajari saat di sana? Apakah ada sesuatu yang bisa diaplikasikan untuk mendorong pertumbuhan musik Jamaika di Asia Tenggara?

Suatu hari saya melihat seorang Rasta di jalan di Belmont, Jamaika. Dia memakai panci masak di kepalanya dan bernyanyi dengan sangat keras. Saya bertanya, “Rasta! Mengapa kamu memakai panci masak itu di kepalamu? Dan mengapa bernyanyi begitu keras dengan false”. Dia menjawab, “Kamu lihat panci masak ini di kepalaku? Inilah gayaku! Suara saya mungkin tidak bagus, tapi itu SUARA SAYA, tidak ada yang seperti saya.”

Saya pikir sesuatu di Asia Tenggara yang ingin kita ikuti adalah tren, atau meniru apa yang telah kita lihat, tetapi saya pikir pria rasta ini membawa pelajaran penting untuk kreatifitas di sini, untuk jujur ​​pada diri sendiri, suara kita, warisan kita, dan pesan kita – dan banggalah akan diri kita sendiri, sebuah perspektif dan suara yang istimewa.

Juga motto nasional Jamaika adalah “Out of Many One People” dan saya pikir pernyataan ini menggambarkan Asia Tenggara juga, bagaimanapun semua kita berada di bawah aturan yang sama. Mengingat hal ini, saya berpikir bahwa meskipun Reggae, Dub atau Dancehall mungkin bukan budaya mainstream di wilayah ini, jika kita bekerja sama antara Singapura, Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Kamboja, Vietnam, Laos, Taiwan dan Australia – kita dapat melihat pertumbuhan yang kuat dari skena Reggae dan perkembangan gaya musik Asia Tenggara yang sesungguhnya.

 

Jika Jamaika memiliki Kingston Dub Club, Singapura juga memiliki Singapore Dub Club (SDC). Apa pemikiran atau impianmu di balik lahirnya Singapore Dub Club?

Saya dulu mendatangi Kingston Dubclub, di perbukitan paroki jalan Andrew di Jamaika. Yang menarik bagi saya adalah bahwa di luar Jamaika, orang-orang dari Eropa, Asia, dan Amerika berkumpul di sini untuk berbagi kecintaan mereka pada dub. Memahami bahwa Singapura juga dipandang sebagai hub internasional, saya membayangkan hal yang sama dengan tujuan untuk menciptakan tempat di mana semua talenta Reggae Asia Tenggara dan pecinta sound system dari seluruh dunia dapat bertemu di Singapura Dubclub untuk saling terhubung, menari dan berbagi cinta terhadap budaya ini. Saya juga melihat ini sebagai peluang untuk membantu menambahkan jadwal bagi banyak artis untuk singgah dan melakukan pertunjukan di Singapura.

Melalui SDC, Kamu telah mengadakan banyak acara yang menyenangkan, seperti Bintan Dub Club dan Gili Dub Club yang membawa Addis Pablo dan Donisha Prendergast. Kamu tampaknya memiliki banyak “Koneksi Jamaika”, apa pendapatmu tentang hal ini? Seberapa penting berjejaring menurutmu?

Saya sangat diberkati dalam hidup saya untuk bisa tinggal di Jamaika dan Amerika Utara dan mengembangkan koneksi ini untuk membawa mereka kembali ke Asia Tenggara, tetapi di luar jaringan – saya merasa sangat penting bagi orang Asia Tenggara untuk menyaksikan musik Reggae dari sumber aslinya. Individu seperti Addis Pablo, Donisha Pendergast, Skunga Kong, Xana Romeo mewakili generasi baru dari warisan besar musik & budaya Jamaika. Sungguh menakjubkan bisa berbagi dengan para seniman ini untuk belajar dari pengalaman mereka secara langsung. Di luar ini, mereka adalah anak muda yang kreatif sehingga kami dapat bekerja dengan mereka sebagai orang-orang sezaman yang progresif yang ingin melihat karya orang tua dan kakek nenek mereka berlanjut secara internasional.

 

Setelah Sister Nancy, Johnny Osbourne, U-Brown dan General Levy, Apakah ada nama besar lain yang ingin dibawa ke SDC nanti ketika situasi sudah makin membaik?

Saya ingin membawa nama nama dalam line up Reggae Revival seperti Kabaka Pyramid, Protoje, Koffee, Chronixx, Lila Ike, Naomi Cowan, Shensea, Teflon Zinc Fence, Skip Marley, Jah 9, Sevana dan The Royal Blu, karena saya bisa merasakan api dari Jamaika yang mereka nyalakan sebagai warisan akar musik mereka, dapat digaungkan di sini di Asia Tenggara. Saya juga ingin membawa artis seperti Tanya Stephens, Marcia Griffiths, Etana, Queen Ifrica dan Tessanne Chin karena saya melihat banyak festival Reggae Asia Tenggara didominasi oleh bakat pria, sangat sedikit artis wanita. Saya berharap melihat Para Permaisuri ini di atas panggung bisa menginspirasi lebih banyak wanita untuk bernyanyi dengan gaya ini.

 

Kamu juga salah satu pendiri dari Nusantara Records, bisa ceritakan ide awal pembentukan ini? Apakah akan selalu merilis karya yang terkait dengan musik Jamaika saja?

Manifesto Nusantara Records adalah untuk memperjuangkan suara-suara unik dari kawasan Asia Tenggara dan membawanya ke dunia. Ini bukan hanya untuk musik-musik Jamaika, tetapi artis yang menampilkan warisan unik Asia Tenggara dalam musik mereka, untuk karya karya terbaru. Selama pandemi ini, saya mengalihkan kegiatan tradisional dari label rekaman menjadi lebih fokus pada ‘peluang sinkronisasi dan lisensi’ agar musik artis Asia Tenggara muncul di Netflix, TV, film, iklan, dan video game. Tur dan manggung sangat sulit saat ini, jadi kami ingin mengalir saja dan memikirkan bagaimana kami dapat membantu lebih banyak artis, dan salah satu caranya adalah dengan menciptakan peluang dan sumber keuangan melalui distribusi sebuah lagu. Saya telah berhasil memasukkan musik saya ke acara Netflix seperti Altered Carbon, Wu Assassins, Snowpiecer dan bahkan lagu saya “Warriors Tongue” di-remix sebagai lagu trailer untuk Fast and Furious 8. Sekarang kami sedang mengembangkan platform sehingga kami dapat membuka ini peluang yang tidak hanya untuk saya, tapi untuk lebih banyak seniman dari wilayah ini.

Saat ini kami terbuka untuk menerima musik dari artis Asia Tenggara untuk katalog kami. Silahkan hubungi kami melalui DM @nusantararecords

 

Di luar aktivitas musik, kamu juga membangun bisnis lain berupa produk saus Jamaika, “Saus Suka Suka”. Apakah saus Jamaika ini cocok bagi lidah orang Asia? Apakah ada jenis produk lain yang juga unik dari Jamaika, yang bisa menjadi peluang bisnis di Asia?

Suka Suka Saus sangat sedap! Kami membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan formula ini bukan hanya karena saya ingin rasanya benar-benar nikmat, tetapi juga kami ingin membuat bumbu alami tanpa bahan pengawet. Saya benar-benar berpikir ini cocok dengan Asia Tenggara dan saya sering menggambarkan Ayam Jerk Jamaika rasanya seperti “Ayam Bakar Reggae”.

Orang-orang di Asia Tenggara menyukai makanan. Jadi, cara apa yang lebih baik untuk menemukan musik dan artis baru melalui saus? Saat ini kami sedang mengembangkan Saus Suka Suka untuk menampilkan musik dari berbagai artis yang ingin kami bagikan di berbagai wilayah, jadi ketika kamu memasak dengan Saus Suka Suka, harus memutar musik mereka, atau makanannya tidak akan enak! (tertawa terbahak-bahak).

 

Sebagai salah satu panutan dari Asia Tenggara, sebagai salah satu bintangnya di kancah musik Jamaika, apakah kamu punya ide untuk membawa budaya Asia ke dalam dinamika kancah ini? Mungkin lewat infusi musik, tarian atau yang lain?

Lucunya, pengaruh Asia selalu menjadi bagian dari musik Reggae, mengingat warisan darah Cina-Jamaika yang telah menjadi bagian dari musik sejak awal, mulai dari Leslie Kong (produser awal Bob Marley, Jimmy Cliff), Randy dan Pat Chin ( VP Records), Mikey & Geoffrey Chung, Byron dan Neville Lee, JustinPhillipYap, Herman Chin Loy…dan bahkan artis yang lebih baru seperti Tami dan Tessanne Chin. Dengan logika itu, saya tidak berpikir ini hanya tentang membawa dinamika budaya Asia ke dalam skena ini (karena saya percaya ini akan terjadi secara alami karena kita orang Asia, bernyanyi dalam bahasa Asia atau topik yang relevan secara regional), tetapi saya penasaran untuk melihat bagaimana kita mulai mengidentifikasi elemen-elemen umum dari budaya kita, perjuangan kita dan pesan kita dengan orang-orang Jamaika. Saya pikir menggali lebih dalam ke akar kesamaan antara wilayah kita adalah apa yang akan menumbuhkan komunitas yang lebih bermakna dan berkelanjutan. Saya teringat motto sederhana “One Love”.

 

Apakah kamu memiliki beberapa nama dari unit musik atau solois Asia Tenggara yang ingin direkomendasikan? Apakah ada kemungkinan kami akan segera mendengar kolaborasi mu dengan salah satu dari mereka?

Srirajah Rockers (Dub, Thailand)
Windy City (Reggae, Korea)
Awich (Dancehall, Japan)
Delhi Sultinate (Dub-Reggae, India)
King I (Soundsystem, Malaysia)
Edy J (Lead singer of Gerhana Skacinta, Malaysia)
Matzka (Reggae, Taiwan)
Kuno Kini (heritage, Indonesia)
Toke Music (Reggae, Pop, Indonesia-German)
Johny Comes Lately (Ska-Punk, Malaysia)
Lord Dillinger (Rocksteady, Malaysia)
Astro Melody (Reggae-Soundsystem, Australia)
Jahwise Productions (Roots Reggae, Australia)
Saya pernah berkolaborasi dengan beberapa artis dalam daftar ini! Saya memiliki hasrat besar untuk Reggae Asia Tenggara dan akan bersemangat untuk terus menciptakan lebih banyak musik bersama dengan talenta dari belahan dunia ini. Saya berharap dapat melakukan kolaborasi dengan artis seperti Conrad Good Vibration, Denny Frust dan Yella Sky Sound System di tahun mendatang dan semoga lebih banyak musik bersama dengan artis Reggae wanita dari SEA.

 

Kamu telah beberapa kali melakukan tur atau tampil di Indonesia. Apa yang menarik dari kancah musik Jamaika di Indonesia? Apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan kepada teman-teman di Indonesia?

Saya memiliki banyak hal positif untuk dikatakan tentang dunia musik Jamaika di Indonesia. Banyak artis Jamaika yang kagum saat saya tunjukkan betapa banyak orang yang merayakan Reggae dan Ska, padahal saat ini di Jamaika hampir tidak ada band Ska dan banyak dari musik itu dianggap sebagai musik lawas atau warisan. Mereka terkejut ketika melihat bagian dari budaya mereka yang tidak lagi dirayakan di tanah air mereka, diadopsi oleh banyak orang dari berbgaia penjuru dunia. Saya juga berpikir ada begitu banyak bakat musik di Indonesia yang secara alami memahami jiwa Rub-a-Dub. Saya ingat ketika saya memutar Denny Frust menyanyikan “Police and Thives” untuk Ken Boothe, dan dia membuat saya harus mengulang 3 kali karena dia tidak percaya pria Indonesia yang kurus ini bisa menyanyikan musik dengan gaya soulfulness yang sama.

Di atas segalanya saya pikir apa yang paling kuat di kancah musik Jamaika Indonesia adalah kekuatan komunitas. Ketika orang-orang memutuskan untuk bekerja sama di Indonesia, begitu banyak hal hebat terjadi dari Mod’s Mayday, Festival, Penggalangan Dana hingga dukungan yang saya dapatkan untuk festival pribadi yang saya berikan untuk Bintan dan Gili Dubclub.

Untuk teman-teman Indonesia saya, saya ingin berterima kasih kepada setiap orang yang pernah saya temui di tur atau di pertunjukan dari lubuk hati saya yang selalu membuat saya merasa diterima, diterima, dan dirayakan sebagai seorang seniman. Setiap kali saya tampil di Indonesia, saya dapat merasakan energi orang-orang dan itu membuat saya ingat mengapa saya sangat mencintai budaya musik ini. Setiap kali saya tampil di Indonesia, saya menjadi artis tamu di acara orang lain, jadi itu adalah impian saya untuk suatu hari berkeliling Indonesia dengan pertunjukan utama saya sendiri, menelusuri kembali kota-kota dan tempat-tempat warisan keluarga saya.

(Keyko,Sam & Yedi)

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Chris Foreman

Edisi Khusus: Wawancara Spesial Dengan Chris Foreman

Guntur “Ophay” Sukarno

Protagonis Dub Dari CIrebon

Gaudi

Musisi dub penuh eksplorasi yang selalu membawa inovasi untuk dinikmati, Gaudi!