Dari Denyut Tokyo ke World Standard Soundsystem Music
Di sebuah kota yang ritmenya begitu dinamis dan anti-statis, dengan jajaran neon yang menyala sepanjang malam dan jalur kereta terbentang membawa penumpang dari satu distrik ke distrik lain, Tokyo memiliki denyut musikalnya sendiri. Di balik hiruk-pikuk metropolis itu, ada ruang-ruang kecil yang hidup oleh getaran bass, klub bawah tanah yang memutar piringan hitam sepanjang malam, serta komunitas sound system yang merawat tradisi reggae dengan kesabaran hampir ritualistik. Dari ekosistem itulah Bim One Production muncul sebagai salah satu unit penting yang membawa resonansi penting dalam lanskap reggae global dari kota ini.

Bim One Production adalah unit produksi riddim reggae elektronik berbasis di Tokyo yang terbentuk pada tahun 2014 dengan satu gagasan sederhana namun memiliki implikasi besar. Mereka ingin membawa riddim reggae ke level berikutnya. Di balik proyek ini berdiri dua produser dan DJ yang telah lama tenggelam dalam kultur sound system Jepang, yaitu e-mura dan 1TA.
e-mura dikenal sebagai pembuat track dari grup raggamuffin Tokyo Rub-A-Dub Market, sementara keduanya juga pernah menjadi bagian dari kru sound system penting PART2STYLE, tempat mereka memproduksi riddim dan berbagai track yang membentuk reputasi mereka di skena lokal. Sejak awal, konsep artistik mereka sudah jelas, yaitu “world standard soundsystem music.” Sebuah sikap yang datang atas rasa hormat terhadap akar reggae Jamaika dengan infusi baru dari Tokyo.
Perjalanan menuju titik itu tidak dimulai dari studio modern atau festival internasional. Semua dilalui lewat pengalaman yang jauh lebih personal. Pertemuan pertama dengan musik yang perlahan berubah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bagi e-mura, hubungan dengan reggae dimulai ketika ia masih remaja. Pada masa itu, Jepang sudah memiliki komunitas reggae yang cukup hidup dengan klub-klub yang memutar roots, dub, dan dancehall hingga larut malam. Ketika ia mulai bekerja di sebuah klub reggae, hubungan itu membawanya untuk terlibat lebih dalam. Di tempat itulah ia memulai sebuah proyek sound system atau selector bernama Jam Master yang masih aktif hingga hari ini.
Bekerja di klub reggae, tentu dituntut kemampuan lebih dari “hanya memutar lagu.” Dalam tradisi sound system, selector adalah kurator suasana. Ia harus menguasai analisa kapan sebuah riddim harus dilepas dan bagaimana bass dapat menggerakkan energi ruang. Merubah reggae menjadi ruang hidup yang terus mengisi aktivitas sehari-hari.
Perjalanan 1TA memiliki jalur yang berbeda namun bertemu pada frekuensi yang sama. Sejak kecil ia selalu tertarik pada sisi B dari piringan hitam. Bagian ini sering berisi versi dub atau instrumental dari lagu utama. Dalam tradisi reggae, sisi B adalah ruang eksperimen yang bisa merubah struktur musik, mulai dari echo, delay, dan manipulasi yang membawa suara baru.
Roots Jamaika, Jiwa Tokyo
Reggae, memiliki akar spiritual dan historis yang sangat kuat di Jamaika. Hal ini bahkan membuat Jepang menjadi salah satu komunitas reggae terbesar di luar kepulauan karibia. Keterlibatan Bim One Production dalam skena ini cukup memiliki andil besar, e-mura menjelaskan bahwa itu terjadi melalui interpretasi pribadi. Sebagai seseorang yang hidup di Jepang, ia menafsirkan pesan-pesan yang berasal dari pandangan religius dan gaya hidup tersebut dengan caranya sendiri lalu menerjemahkannya ke dalam musik yang ia produksi.
Sementara, bagi 1TA, nilai-nilai yang ia pelajari dari budaya reggae justru terasa sangat universal. Konsep seperti “I and I”, “Respect and Manner,” serta “Ruff and Tuff” menjadi pelajaran hidup yang terus ia ingat. Nilai-nilai ini bukan khusus milik Jepang, melainkan prinsip yang berlaku bagi seluruh manusia.
Bim One Production, tidak pernah berhenti di situ, manifestasi mereka melahirkan interaksi dengan berbagai musisi dan kru dari berbagai negara. Salah satu pertemuan yang sangat berkesan bagi e-mura adalah dengan sound system Skotlandia Mungo’s Hi Fi. Mereka berasal dari Skotlandia tetapi tetap menunjukkan penghormatan yang sangat kuat terhadap tradisi reggae sambil membangun gaya produksi mereka sendiri yang unik. Pendekatan itu terasa sangat dekat dengan filosofi Bim One Production.
Bagi 1TA pengalaman yang paling menggetarkan adalah saat ia tinggal di London untuk beberapa waktu dan mengisi line-up dalam banyak gigs. Ia merasakan antusiasme dari para audiens atas koleksi yang ia mainkan. 1TA mengingatnya:
“Saat saya memainkan reggae — atau bahkan lagu-lagu Jepang — dan melihat kerumunan merespons dengan antusias, itu sangat mengharukan.”
Termasuk, ketika ia memulai label Riddim Chango Records dan berkolaborasi dengan Macka B dalam lagu berjudul “Don’t Stop The Sound”. Lagu tersebut menjangkau penggemar reggae di luar Jepang dan menjadi hits secara internasional. Bagi 1TA, momen itu menjadi titik penting dalam perjalanannya.

Reggae sendiri memiliki akar spiritual dan historis yang sangat kuat di Jamaika. Namun Jepang telah berkembang menjadi salah satu komunitas reggae terbesar di luar pulau tersebut. Pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana menjaga esensi spiritual reggae dalam konteks budaya yang berbeda.
Bagi e-mura, proses itu terjadi melalui interpretasi pribadi. Sebagai seseorang yang hidup di Jepang, ia menafsirkan pesan-pesan yang berasal dari pandangan religius dan gaya hidup tersebut dengan caranya sendiri lalu menerjemahkannya ke dalam musik yang ia produksi. Dalam proses itu ia menaruh penekanan kuat pada aspek produksi suara.
Bagi 1TA, nilai-nilai yang ia pelajari dari budaya reggae justru terasa sangat universal. Konsep seperti I and I, Respect and Manner, serta Ruff and Tuff menjadi pelajaran hidup yang terus ia ingat. Nilai-nilai ini bukan khusus milik Jepang, melainkan prinsip yang berlaku bagi seluruh manusia.
Seiring waktu perjalanan Bim One Production membawa mereka berinteraksi dengan berbagai musisi dan kru dari berbagai negara. Salah satu pertemuan yang sangat berkesan bagi e-mura adalah dengan sound system Skotlandia Mungo’s Hi Fi. Mereka berasal dari Skotlandia tetapi tetap menunjukkan penghormatan yang sangat kuat terhadap tradisi reggae sambil membangun gaya produksi mereka sendiri yang unik. Pendekatan itu terasa sangat dekat dengan filosofi Bim One Production.
Bagi 1TA pengalaman yang paling menggetarkan terjadi ketika ia tinggal di London untuk beberapa waktu dan bermain DJ di sana. Ketika ia memutar reggae termasuk lagu-lagu Jepang dan melihat penonton merespons dengan antusias, pengalaman itu terasa sangat mengharukan.
Pengalaman penting lainnya terjadi ketika ia memulai label Riddim Chango Records dan berkolaborasi dengan Macka B dalam lagu berjudul “Don’t Stop The Sound”. Lagu tersebut menjangkau penggemar reggae di luar Jepang dan menjadi hit secara internasional. Bagi 1TA, momen itu menjadi titik penting dalam perjalanannya.
Di studio produksi, pendekatan Bim One Production memang selalu selalu mulai bergerak dari dunia sound system. Tapi e-mura menegaskan:
“Kami mempertahankan reggae sebagai medium ekspresi kami, sekaligus tetap dipengaruhi oleh berbagai jenis musik dari seluruh dunia.”
Salah satu sumber inspirasi datang dari sound system Jepang eastaudio. Sistem ini mampu memainkan berbagai jenis musik termasuk techno dan bass music, tetapi di inti terdalamnya tetap membawa semangat reggae.
Selain itu mereka juga mendapat banyak stimulasi dari orang-orang di sekitar mereka yang membuat musik hebat dengan pendekatan yang berbeda. Di antaranya adalah tetangga dan teman-teman dari proyek label dan artis newdubhall serta Undefined, serta partner label mereka Element.
Terapi Bass dan Pengakuan Global
Pada akhirnya semua musik yang mereka buat selalu dipikirkan dalam konteks bagaimana ia akan terdengar di sound system tersebut. Sound system bagi mereka bukan sekadar alat pemutar musik, tetapi ruang akustik tempat kualitas suara diuji secara maksimal.
Bagi e-mura, sesi sound system memiliki dimensi emosional yang hampir sulit dijelaskan. Ia menggambarkannya sebagai pengalaman luar biasa yang terasa seperti terapi gelombang suara.
Bagi 1TA kekuatan sound system terletak pada sifatnya yang sepenuhnya dikendalikan oleh kru yang membangunnya. Berbeda dengan sistem PA di klub atau festival yang sering memiliki batasan tertentu, sound system dirancang, dipasang, dan dioperasikan secara mandiri. Karena sifat independen itu suara yang dihasilkan sering terasa membawa jiwa atau soul yang lebih kuat. Dalam sebuah sesi penonton akan beresonansi dengan semangat tersebut.

Seiring waktu ada beberapa momen yang membuat mereka sadar bahwa musik mereka telah benar-benar terhubung dengan komunitas reggae global. Salah satunya ketika Don Letts dan David Rodigan sering memutar musik mereka di radio BBC.
Momen lain datang dari dunia sound system ketika legenda dub Jah Shaka memainkan musik mereka. Selain itu mereka juga merasakan dampaknya ketika distributor rekaman di berbagai negara melakukan pemesanan ulang terhadap rilisan mereka.
Pengalaman yang paling terasa terjadi ketika mereka bermain di Subcamp Festival di Thailand. Ketika lagu seperti “Don’t Stop The Sound” dan “Hard Times VIP” diputar, banyak penonton yang sudah mengenalnya. Melihat penonton begitu antusias terhadap lagu-lagu tersebut benar-benar mengejutkan bagi mereka.
Energi Positif dari Sound System
e-mura dan 1TA memang menyerap energi dari pesan pesan bijak dalam reggae, mereka adaptif sekaligus membumi. Ketika ditanya tentang banyaknya kontribusi sosial musik yang telah mereka bawa, dua figur ini seperti menghindari spotlight.
“Saya rasa kami tidak memberikan dampak besar terhadap masyarakat. Tapi kalau musik kami bisa menggerakkan emosi orang meski hanya sedikit, itu sudah cukup.”
Begitu respon dari e-mura. Sementara 1TA justru menyerap nilai besar dibalik filosofi kultur sound system. Ia menggarisbawahi:
“Pelajaran yang kami ambil dari budaya sound system DIY reggae dan dub — yang sangat mempengaruhi kami — adalah tentang berkolaborasi dan menciptakan energi positif di dalam sebuah komunitas. Hal itu tidak hanya bisa diterapkan dalam musik, tapi juga dalam banyak situasi kehidupan lainnya.”
(Wawancara:Keyko, Editor: Sam)




Show Comments