Malaysia adalah satu titik skena yang juga aktif dalam perkembangan kultur sound system di Asia Tenggara. Salah satunya, lewat eksistensi Langkawi Dub Club, kolektif asal pulau Langkawi yang mulai terbentuk pada 2022. Awalnya digerakkan oleh beberapa selector dan MC, mereka membangun fondasi dari ketertarikan mereka pada musik dengan frekuensi rendah serta kerja kolektif yang konsisten. Pada 2024, mereka berhasil merakit full stack sound system sendiri, menandai langkah penting dalam memperkuat posisi mereka di ranah dub.

Langkawi Dub Club dijalankan oleh tiga protagonist, yaitu: Miroll, King-I, dan Joe PV. Kolektif ini sarana untuk menyampaikan energi dan pesan yang sejalan dengan nilai-nilai kultur sound system, lewat energi musikal. Sebuah spirit besar yang lahir dari budaya yang menjadi jembatan komunikasi antar komunitas lewat musik.
Secara musikal, mereka bermain di wilayah reggae, dub, dan steppa. Hal ini adalah manifestasi solid yang datang dari akar musik musik Jamaika, sekaligus respons terhadap perkembangan sound system modern. Mereka kerap mengadakan “ritual” di ruang-ruang kecil yang bersifat komunal seperti Imangroove Cafe, Mola Mola Cafe, dan SB LGK—tempat yang juga mempertemukan berbagai subkultur, termasuk skateboard.

Nama-nama seperti Jah Shaka, Aba Shanti-I, Iration Steppas, hingga O.B.F terlihat jelas sebagai inspirasi mereka. Langkawi Dub Club mengolah referensi tersebut ke dalam konteks lokal dan membangun identitas sendiri. Sejauh ini, mereka juga telah merilis beberapa single sebagai bagian dari katalog awal.
Langkawi Dub Club melihat gerakan ini adalah bagian dari perkembangan sound system yang lebih luas di Asia Tenggara. Dan mereka aktif terlibat membuatnya terus tumbuh sebagai ruang pertukaran ide, energi, dan kesadaran kolektif lintas wilayah.
Ikuti perkembangan Langkawi Dub Club melalui kanal media sosial mereka.
Instagram | Bandcamp | Spotify
(Keyko & Sam)




Show Comments