Fever Sound System

Train To Feverville

Engine ‘45

Di sebuah kamar tidur di Jakarta Selatan, penuh asap rokok dan piringan hitam yang alphabet-nya masih berantakan, lahir sebuah nama yang hingga nyaris dua dekade kemudian masih seperti mantra; penuh sihir, pesona dan penuh legenda urban. Dari sepasang pemuda yang sering diberikan embel-embel kata gila setelah nama mereka, lahirlah FEVER. Sebuah kolektif yang tidak mereka sadari adalah sebuah dialektika, yang muncul karena jenuh menyaksikan skena yang seperti kehilangan sebab untuk terus bergerak. Dan ternyata, tumbuh besar bersama banyak figur yang kemudian bergabung, ikut menanggung konsekuensi dari kegilaan tersebut.

Yanu Irie, salah satu sosok dari paguyuban selektor penuh gaya dan daya ini, punya jawaban singkat untuk merumuskan sebab yang mendorong Fever ini muncul dan menjadi magnet di lantai dansa Jakarta, sampai akhirnya terbang menjelajah benua.

“Format 7 inch.”

Begitu ia menjelaskan. Dan menambahkan kembali, “Karena kita pengen balikin ke era radio DJ.”

Meski begitu, ia merevisi kembali. Iqbal Djoha dan Iman a.k.a Dr.Yez, sepasang pemuda yang dimaksud dalam paragraf pertama, lebih penuh sejarah. Ia menyaksikan dua founder tersebut menyusuri Taman Puring dan Jalan Surabaya, berburu plat seharga sepuluh ribu perak sambil belajar dari nol.

Dr.Yez mengamini minimnya referensi saat itu. Satu-satunya cara untuk belajar hanya butuh jurus yang ia temukan:

“Belajar, berburu dengan modal insting dan kepala batu.”

Bagi Fever, aktivitas berburu itu adalah media bagi mereka untuk mempelajari tempat yang mereka datangi: sejarahnya, kebudayaannya, bahkan jejak kolonial yang kemudian mengantar mereka kembali kepada musik. Saat di Singapura, misalnya, mereka membaca terlebih dahulu siapa yang pernah menjajah, sejarah apa yang harus dipelajari, dan peninggalan apa yang tersisa. Dan itu mengantarkan mereka menarik benang merahnya kembali ke plat (vinyl/piringan hitam). Singkatnya, sebuah cara Fever membaca budaya sebelum kembali menemukan musik di dalamnya.

Iqbal mengingat era 2009 sampai 2011, saat band ska dan reggae satu per satu ditolak venue Jakarta karena “sales-nya kurang, yang ribut banyak, dan bikin acak-acakan tempat.” Era ini memang terdengar seperti semesta musik ska-reggae sidestream di Indonesia yang mereka masuki sedang melaju di Route 66 menuju liang kubur, enam kaki di bawah tanah.

Saat itu, sebuah jawaban untuk mereka muncul dari sebuah video seorang selektor bernama Jurassic Sound System, main di tengah pasar dengan speaker seadanya.
“Kayak gini sih yang kita perlu bikin,” kata Iqbal ke Iman waktu itu.

Dan Fever Sound System resmi lahir, dengan logo yang dibuat oleh Nyonk. Residensi pertama di Borneo Beerhouse – Jakarta, hingga sekarang kereta mereka terus berjalan tanpa butuh peta.

Nevermind the bollock, here’s the Fever Sound System!

Secara musikal, Fever adalah sebuah gerbong yang sengaja memilih jalur berbelok dari kiblat umum. Saat DJ lain di 2013 mengejar beat matching dengan mengandalkan ketukan drum, mereka memakai teknik chopping, mencari intro drum supaya transisi lagu mengalir tanpa jeda yang timpang.

Namun, menemukan jalur sendiri bukan berarti perjalanan menjadi lebih mudah. Tantangan terberat, kata Iqbal, bukan soal skill DJ atau selera musik. Itu soal venue yang tidak percaya, alat yang tidak ada, budget yang tidak jelas. “Kadang-kadang pihak venue juga belum yakin dengan budgeting-nya,” katanya, mengingat masa saat sponsor cuma datang dari acara yang digagas dan didukung oleh brand brand lokal, sementara bar dan restoran lebih patuh terhadap cash flow dan dampak ekonomi. Solusinya satu kata yang diulang berkali-kali sepanjang wawancara ini: gotong royong.

Iqbal merangkum siasat mereka saat itu:

“Kita hajar aja, yang penting gimana caranya plat kita bunyi dan orang dengerin.”

Yanu Irie mengingat versi paling fisik dari perjuangan itu. Ada sekitar lima belas orang lain menenteng turntable dari lantai satu ke lantai lima. Mereka bukan kru atau tim produksi. Mereka, dalam glosarium politik, adalah massa cair: kelompok tanpa struktur formal yang punya satu suara, hasrat yang solid. Yang mereka inginkan hanya satu: pesta bersama Fever ini harus jadi.

Bagi Dr.Yez, ini adalah manifesto “Party first!” karena dalam kamusnya bersama Fever: “Digging dan party adalah dwitunggal yang absolut, dua hal yang tak bisa berjalan sendiri-sendiri”

Ia menggambarkan lebih lanjut bahwa :

“Itu sama dengan mengantarkan rasa ingin tahu, sekaligus menjadi dorongan untuk membagikan pengetahuan itu sendiri.”

Fever Are One Family

Fever adalah salah satu kolektif yang pintu rumahnya tidak memiliki kunci. Mereka selalu terbuka, termasuk menerima energi dari individu baru. Philip Ponk, salah satu seniman prominen di ibu kota saat ini, masuk lewat pintu berbeda, dari digital, bukan dari piringan hitam.

“Kebalikan sama anak-anak kan, dari plat dulu baru digital, kalau Philip dari digital dulu”

Begitu, dia menjelaskan tentang bagaimana ia masuk ke dalam gerbong Fever ini sebagai energi baru, menambah lineup selector. Satu lagi, alasan sebenarnya bukan musik, melainkan nongkrong tanpa alasan “The reason is no reason,” katanya sambil tertawa. Juga, mengamini bahwa Fever Sound System adalah “Rumah” yang memberikannya atap kreatifitas menjulang dengan lantai persaudaraan yang luas.

Fever sebagai kolektif musik, seperti kebanyakan kolektif lain punya landasan sendiri, Dr.Yez — yang juga diamini oleh personil lain menggarisbawahi itu; ada sense of belonging yang sejak awal sengaja ditanamkan di dalamnya, yaitu:

“Good friends, good family.”

Gilang Fitzz, scenester veteran dari Jakarta datang dengan cerita berbeda. He’s no stranger untuk kolektif ini sejak era awal. Kehadirannya pada konteks berikutnya, lebih dekat pada krisis ketimbang perayaan. Saat pandemi, ketika Dr.Yez sedang menjalankan perannya sebagai “The Lost Boy” di Bali meninggalkan Iqbal sendiri, Gilang mengisi kekosongan itu. “Iqbal kayak sendirian gitu tuh, struggling sendirian,” katanya, mengingat masa saat mereka mulai kembali siaran dengan nama “Fever Live Injection,” Salah satu brainchild kolektif ini yang membuat banyak petinggi skena jatuh hati. Mulai dari Eddie Piller dari Acid Jazz Records mentransmisikannya lewat “Totally Wired.” Begitu juga di tanah air, mereka mendapatkan approval dan sebuah program dari David Karto salah satu impresario di negeri ini lewat DeMajors yang ia jalani. Dan, akhirnya, “Fever Live Injection” menjadi salah satu magnet dari radio independen penuh gaya dari ibukota, RRO (Radio Rumah Oma).

Gilang punya cara sendiri menjelaskan kenapa kolektif ini lebih kuat dari kerja sendirian. “Kalau gue sendirian itu nggak bakal lama tuh orang kenal,” katanya.

“Kalau kita rame-rame nih, bakalan makin panjang pasti, karena estafet terus.”

Fever, baginya, menyediakan ruang berekspresi yang tidak bisa didapat sendirian, tempat ide-ide gila soal masa depan boleh dilempar tanpa takut ditolak.

Lokomotif Penuh Gaya

Soal tanggung jawab ke generasi baru, jawabannya lahir jadi istilah sendiri, “bakti skena.” Regenerasi itu sudah berjalan lewat Yon D, MC yang secara tidak langsung dibentuk oleh dua mentornya, Juik Cobra dan Sir. Allen. MC yang cukup jauh dari orbitnya Fever ini justru menambah spektrum di setiap pesta mereka. Yon D membawa infusi yang menarik lewat ketertarikannya pada Deeder Zaman dari Asian Dub Foundation. Begitu juga dengan Phillip yang langkahnya pun sudah terdengar funk, Gilang yang tumbuh bersama koleksi oi!, punk, hardcore miliknya, ia justru “menemukan” skinhead culture di dalam gerbong Fever yang terus berjalan ini.

Fever, dengan kesadaran yang santai, kerap memadukan audio dan visual yang kemudian menjadi identitas mereka. Iqbal mengingat:

“Kita muterin plat dari kisaran tahun 50-an akhir, blues-bluesan, rockabilly. Jadi secara fashion pun looks-nya seperti itu saat itu.”

Yanu Irie, dengan lebih santai membagikan filosofinya:

“Secara natural aja, karena memang kita suka banget sama “Do Nothing”-nya The Special. Liriknya kan tentang itu.”

Tapi, bagi kami di kultur, sahih rasanya menyebut Fever sebagai partikel yang membentuk episentrum gaya sebuah skena, “adibusana” yang selalu menjadi kiblat ranah Jamaican Sound di Indonesia.

Fever Sound System, gerbong musik yang lahir dari kamar berantakan, dengan asupan gizi dari plat – yang saling dipinjam–bukan untuk keuntungan finansial, tapi perangko brotherhood. Dari segelintir orang, hingga di banyak tempat di Asia Tenggara bahkan Eropa, kereta ini masih jalan; tujuannya tetap sama sejak hari itu. Sister and brethren, this is a train to Feverville!
(Sam)

Tags:

  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *