Anak Sang Godfather: Noel Ellis dan Warisan yang Tumbuh di Ruang Tamu
Kingston, pertengahan dekade 1960-an. Tempo ska melambat yang akhirnya melahirkan rocksteady, genre yang mengubah arah musik Karibia. Di pusat kelahirannya ini, ada sosok yang berdiri tegak dan bertanggung jawab; Alton Ellis, sang Godfather of Rocksteady.
Dunia mengingat Alton Ellis lewat panggung dan rekaman. Tapi, Noel Ellis sang anak, mengenalnya lebih dekat. Ia membagikan cerita dari ruang tamunya dalam perayaan 6 tahun kulturdotmedia.
“Saat saya mengingat ayah saya, hal pertama yang muncul bukan gelar ‘Godfather of Rocksteady’. Saya mengingat sosok manusianya, kerendahan hatinya, cara beliau membawa dirinya. Bagi dunia beliau adalah Alton Ellis, tetapi bagi saya beliau adalah ayah saya,” kata Noel.
Pernyataan ini menjadi titik berangkat percakapan wawancara kami: bagaimana seorang legenda pulang ke rumah setiap malam dan tetap menjadi ayah.

Panggung Berhenti di Depan Pintu
Alton Ellis punya versi lain di rumah: seorang kepala keluarga yang menyimpan mikrofonnya saat pintu sebagai penghibur bagi banyak orang tertutup.
“Di rumah, beliau adalah seorang ayah dan kepala keluarga. Musik memang menjadi bagian besar dari hidupnya, tetapi ada sisi dirinya yang jarang dilihat publik. Beliau sangat sederhana dan membumi”
Momen sederhana yang disimpan dengan rapat oleh Noel, menjadi pengingat bahwa di balik lagu yang dinyanyikan sang legenda lintas generasi ini, ia adalah seorang lelaki dengan tanggung jawab dan orang-orang yang ia cintai.
Cara Alton Ellis menjalani hidup ini menjadi pelajaran yang terus menemani Noel hingga dewasa. Pelajaran itu datang melalui teladan sehari-hari. Ia mengingat:
“Beliau menunjukkan bahwa seseorang bisa meraih hal-hal besar sambil tetap menghormati orang lain. Karya dan cara kita memperlakukan sesama akan berbicara dengan sendirinya.”
Dari Trenchtown ke Panggungnya Sendiri
Noel lahir di Kingston pada 1958 dan besar di Trenchtown, kawasan yang mencetak nama-nama besar dalam sejarah musik Jamaika.
Ketika Alton pindah ke Toronto, Noel menyusul, tumbuh di komunitas diaspora Karibia yang menjaga hubungan emosional lewat piringan 45 rpm terbaru dari Jamaika. Alton lalu melanjutkan perjalanan ke Inggris, sementara Noel tinggal bersama bibi dan pamannya, menyaksikan skena reggae Toronto pertengahan 1970-an di sekitar label Summer Records milik Jerry Brown.
Tapi Channel One di Kingston, tempat Noel remaja pernah merekam bersama The Gladiators, menjadi ruang pertama tempat ia mulai mendengar suaranya sendiri.
“Menemukan suara sendiri adalah sebuah perjalanan. Sebagai anak Alton Ellis, tentu pengaruh itu ada. Saya tumbuh dengan mendengar suaranya dan merasakan musiknya”
Jerry Brown melihat potensi itu. Pada 1978, “Reach My Destiny” rilis, sepi respon. Setahun kemudian “Rocking Universally” turun ke pasar bersama Jackie Mittoo, dan lagu itu yang akhirnya bicara: masuk tangga lagu 12 inch di Eropa. Pada 1983, album penuh Noel Ellis rilis lewat Summer Records. Tak komersial saat itu, tapi kelak jadi harta karun kultus yang diangkat kembali oleh Light in the Attic Records lewat reissue CD pada 2006.
“Saat saya mulai merekam lagu ketika masih muda, bekerja di Channel One dan bersama musisi seperti The Gladiators, saya mulai memahami bahwa saya memiliki cerita saya sendiri”
“Saya menyadari bahwa saya bisa menghormati asal-usul saya tanpa harus menjadi ayah saya. Saya adalah Noel Ellis. Pengaruh ayah selalu ada dalam diri saya, tetapi pengalaman hidup, perjalanan, dan suara saya adalah milik saya sendiri,” katanya.

Bagaimana Alton bisa terus relevan melintasi era ska, rocksteady, hingga reggae, tanpa kehilangan jati diri?
“Karena pondasinya kuat. Ayah saya memiliki suara, gaya, dan rasa yang benar-benar menjadi miliknya,” jawab Noel.
“Beliau memahami musik. Yang lebih penting lagi, beliau memahami emosi. Cinta, patah hati, dan kehidupan akan selalu relevan. Kejujuran itulah yang membuat musiknya bertahan melewati setiap zaman”
Karakter Sebagai Warisan Kedua
Orang biasa mengukur warisan musisi lewat diskografi. Noel mengukurnya lewat cara hidup.
“Lagu-lagu adalah bagian besar dari warisan seseorang. Karakter juga merupakan warisan. Cara kita memperlakukan orang lain, cara kita menjalani hidup, dan teladan yang kita tinggalkan kepada anak-anak juga akan tetap hidup,” ujarnya.
Satu kalimat jadi kompas yang ia bawa melintasi Kingston, Toronto, dan London: “Tetaplah menjadi diri sendiri.”
“Musik akan terus berubah. Orang-orang akan selalu memiliki pendapat. Industri juga akan terus mengalami perubahan. Tetapi kita harus mengenal siapa diri kita,” lanjutnya.
Rocksteady, bagi Noel, adalah pelajaran tentang rasa yang masih relevan untuk generasi yang tumbuh di era serba cepat.
“Generasi muda bisa belajar tentang rasa. Rocksteady memeri ruang bagi penyanyi untuk bercerita dan memberi kesempatan kepada pendengar untuk merasakan setiap kata,” katanya.
“Buatlah sesuatu yang memiliki jiwa. Buatlah sesuatu yang jujur. Jika perasaannya sungguh-sungguh, musik akan hidup selama beberapa generasi. Rocksteady sudah membuktikannya.”
Lewat proyek My Father’s Art, Noel merawat warisan itu sambil tetap menagih ruang untuk namanya sendiri.

“Saya berharap mereka merasakan sesuatu yang sungguh nyata. Sebelum mereka tahu bahwa saya adalah anak Alton Ellis, sebelum mereka mengenal sejarah atau warisannya, saya ingin musik itu berbicara dengan sendirinya,” katanya.
“Saya ingin orang-orang juga mengenal Noel Ellis. Jika sebuah lagu selesai diputar dan ada sesuatu yang tetap tinggal di hati pendengarnya, berarti saya telah melakukan pekerjaan saya.”
Alton Ellis mengubah arah musik Jamaika lewat rocksteady. Noel Ellis melanjutkan jalur itu lewat Trenchtown, Channel One, Toronto, London, dan setiap panggung yang ia pijak dengan namanya sendiri. Kerendahan hati, kejujuran, dan kesetiaan pada jati diri jadi benang yang menyambung dua generasi dalam satu keluarga.




Show Comments