Obituari: Guntur ‘Ophay’ Nursanto (Another Project & Baxlaxboy)

Lantai dansa ini sunyi. Baxlaxboy, pionir yang selalu datang, kini telah pergi.

Dua dekade, berdiri di antara speaker. Keliling nusantara, mulai dari Sumatra, Makassar dan Bali, hingga Hamamatsu, Nagoya dan Osaka. Guntur ‘Ophay’ Nursanto, lewat moniker Baxlaxboy telah menjadi penjaga api dub musik di negeri ini. Solid, dan konsisten, bassline pasti membuat lantai dansa penuh suka cita.

Dari Cirebon, ia memulai sesuatu yang jarang bisa dilakukan orang lain: identitas suara dengan akar ganda. Lewat moniker Baxlaxboy, ia membangun apa yang kemudian ia sebut, dan kami di kulturdotmedia beserta scenesters di nusantara amini juga, “Original Pantura Sound”. Sebuah hibrid yang terdengar seperti ketidakwajaran yang dilegalkan. Tapi begitu cerdas untuk diacuhkan. Hasilnya memang bukan fusion. Yang Ophay lakukan terasa seperti sesuatu yang memang sudah ada. Ia cuma begitu cerdik untuk menjadi yang pertama menemukannya. Bersama Another Project sejak 2005, ia ada di momen ketika Cirebon masih bertanya-tanya jenis musik apa yang sedang dimainkan. Dia tidak pergi mencari kota yang lebih siap. Ia pilih menetap. Dan Dia membangun.

Eksplorasi jurusnya unik. Satu kaki dari repertoire King Tubby, Mad Professor dan satu kaki lain nya adalah keanehan yang ia wajibkan lewat nafas dari tanah Pantura. Dari situ, ia menyusun formula dansa yang mujarab: melodi yang menempel, groove yang memompa, lirik yang menyembunyikan cerita pesta di balik kalimat-kalimat yang berbunyi seperti mantra.

Ada momen yang harus dicatat karena terlalu baik untuk hanya jadi anekdot: Ophay pernah membajak sesi “Melekan”, tradisi malam berkumpul khas Cirebon, biasanya diiringi musik yang sudah familiar di telinga warga, dengan memutar Bob Marley. Dan tidak ada resistensi. Tidak ada penonton yang berdiri dan pergi. Mereka mengangguk. Mereka mengikuti. Ophay yang memimpin.

Sebelum ini, dub di Indonesia hanya punya dua ruang, tersimpan dalam hard disk di kamar tidur, atau sebagai pelengkap pesta di Ibukota dan kota-kota besar lain. Belum menjadi perjalanan dan belum jadi identitas. Baxlaxboy membuka ruang lain, “Titik Ketinggian” kemudian menjadi anthem di setiap lantai dansa yang ia bakar, dan “Life Is Free” serta “Have a Nice Dream” menopang bangunan yang pelan-pelan ia cicil. Peran nya ini membuat dub Indonesia akhirnya bisa terdengar lantang hingga di pelosok kabupaten Makassar. Ia membawa nya jauh dari pusat, jauh dari radar industri. 

Yella Sky Sound, salah satu sekutu bunyinya menggarisbawahi, “Baxlaxboy adalah bintang yang diam diam membawa kembali dub ke rumahnya. Grassroots. Dubstar!”

Ophay, dengan perlahan didorong oleh penggemar militannya, memimpin mereka sebagai jemaah dansa. Ia menjadi aksi dub paling sibuk di negeri ini dengan rentetan gigs di banyak kota. Dan tanpa ia sadari, ia sudah menjadi katalisator, mendorong perubahan dalam realm musik dub di Indonesia.

Magixriddim, salah satu konspirator frekeunsinya, mengingatnya begini: 

“Opay BaxLaxBoy, seorang Jamaican Sound Boy yang militan di Indonesia. Di awal perjalanannya yang aku ingat, ketika Baxlaxboy sering perform di Surabaya, langsung gas, tanpa memikirkan budget atau fasilitas, bahkan tanpa tahu akan tidur di mana. Baginya, dub adalah tentang bagaimana musik itu mampu di-delivered mencapai ‘titik ketinggian’ dalam hati siapa pun yang mendengarnya.”

Ophay tidak pernah menunggu panggung yang layak. Ia datang ke kota yang belum mengenalnya, ke lantai dansa yang belum siap, ke telinga yang belum tahu bahwa mereka sedang menunggu musik ini. Riddim dan bassline yang ia mainkan bertemu dengan synthesizer beraroma sensualitas gelap ala Pantura, dan hasilnya; Ia menciptakan memori di dalam tubuh bergerak di lantai dansa. Memori yang tidak bisa dihapus meski orangnya sudah pergi. Gaungnya sudah begitu luas. Bahkan, menjadi guideline bagi generasi baru yang kini mengikuti jejaknya.

Rilisan nya ada yang berjudul “Gonna Make It.” Well, kamu sudah, comrade!

Yang belum selesai adalah kita. Yang masih harus belajar hidup tanpa bass yang mengundang, tanpa kesederhanaan tweaking synthesizer yang justru begitu murni.

Api yang ia mulai, sekali lagi, sudah menyala!

Rest In Power, Ophay! Terimakasih SUDAH membuat bara dub di Indonesia menyala. Berkat semangat mu, Kami pastikan akan tetap begitu. Jika tidak, Kami bakar lagi!

Kami yang berduka,
Semua kompatriot Mu di kultur.media



Tags:

  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *