Papua Soundsplash

Malam itu, “Papua Soundsplash” menjelma jadi gelombang suara yang mengguncang Danau Sentani. Speaker milik ADProduction meledakkan vibrasi bassline yang menggetarkan tubuh dan jiwa, membuat ribuan orang larut dalam ritme timur yang lantang. Sejak awal, atmosfer sudah terasa berbeda: ada aura semacam ritual kolektif di mana musik bukan cuma untuk didengar, tapi untuk dirasakan bersama.

Panggung dibuka dengan langgam raggamuffin yang digdaya dari Asiam Rasmel. Flow vokalnya yang tegas dan penuh artikulasi membuat crowd langsung terhanyut, semacam deklarasi bahwa malam itu akan penuh energi tanpa kompromi. Setelahnya, giliran Wone Roots, unit reggae yang menawarkan harmoni organik dengan balutan groove band yang solid. Suara mereka menyatukan nuansa reggae klasik dengan aksen lokal, seolah menghubungkan tradisi Jamaica dengan denyut nadi Papua.

Peralihan berikutnya lebih intim namun tetap penuh makna—Uncle Mario tampil sebagai solois dengan khidmat. Kehadirannya menghadirkan sisi reflektif, memberi jeda sejenak sebelum energi kembali meledak. Ia membuktikan bahwa reggae tak selalu soal hentakan, tapi juga soal kedalaman rasa dan spiritualitas.

Begitu Meyyom One naik panggung, energi crowd kembali melonjak. Sebagai solois penuh tenaga, ia menghadirkan intensitas yang hampir militant—vokalnya yang lantang berpadu dengan riddim membuat massa bergoyang tanpa henti. Tak lama, Kent Sky mengambil alih, memegang kendali speaker dan meluncurkan seleksi musik pilihan dari Dave Barasano, yang menambah variasi tekstur sonik malam itu. Transisi ini menunjukkan dinamika sound system culture—bahwa seleksi musik dari seorang selector bisa sama pentingnya dengan performa live artis.

Seiring jam bergulir, line up spesial—dari DSPxADP, Asiam Rasmel, Meyyom One, Uncle Mario hingga Wone Roots—membakar suasana dengan energi yang tak pernah kendur. Semakin malam, crowd semakin bersatu, berdendang, dan bergoyang seirama, membuktikan bahwa musik sound system bukan sekadar hiburan, melainkan ruang perjumpaan, persaudaraan, dan perayaan kultur.

Fenomena malam itu bisa dibaca sebagai bentuk “penerjemahan budaya”: reggae yang lahir di Karibia dihidupkan kembali dengan rasa Papua, memberi warna baru yang hybrid tapi tetap otentik. Dari flow vokal sampai pilihan riddim, semuanya terasa menyatu dengan konteks timur. Sentani pun tak sekadar jadi venue, tapi saksi lahirnya babak baru musik reggae Nusantara—gema bassline dan teriakan massa malam itu jadi bukti bahwa reggae timur berdiri dengan kebanggaan penuh.

  • Show Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *