“Celebes Roots Festival” 2025, euforia reggae dan sound system meriahkan Bili Park hingga larut malam. Dua hari dua malam penuh dentuman musik, kerlap-kerlip bintang, dan semangat kebebasan menjadi momen pelepasan diri dari riuh kota menuju harmoni bersama.

Festival ini tidak sekadar menghadirkan musik, tapi juga menghidupkan atmosfer kultural yang jarang kita temui dalam keseharian. Dari sore hingga dini hari, Bili Park berubah menjadi ruang liminal—sebuah persimpangan antara hiburan, ritual, dan perayaan identitas kolektif. Line up yang solid—Coconut Treez, The Paps, Denny Frust, High Therapy, Taman Impian, dan masih banyak lagi—menjadi penggerak utama yang meledakkan energi dan mengalirkannya ke setiap sudut crowd. Setiap band membawa narasi musikalnya sendiri, namun bersatu dalam frekuensi reggae dan roots yang sama: getaran yang mengundang tubuh untuk bergerak dan hati untuk melepaskan.

Yang menarik, Celebes Roots bukan sekadar pesta musik satu arah. Ia menjelma jadi arena partisipasi sosial di mana penonton bukan hanya audiens pasif, melainkan bagian aktif dari pengalaman. Sorakan, nyanyian bersama, dan tepukan tangan massal menjelma sebagai bentuk kolektif call and response yang khas dalam kultur reggae global. Di titik inilah kita melihat bagaimana musik bisa menjadi social glue—perekat sosial yang menyatukan orang dari latar belakang berbeda, meski hanya untuk semalam.

Malam itu, suara reggae dan roots berpadu dengan sorakan crowd, menciptakan pesta penuh cinta dan persaudaraan. Banyak yang menari tanpa lelah, ada pula yang duduk di rerumputan sambil berbincang, semuanya terhubung dalam atmosfer yang sama: kebersamaan. Jika dalam teori musikologis kita bicara tentang “communitas” (Victor Turner), maka Celebes Roots adalah contoh nyatanya—sebuah ruang di mana hirarki mencair, identitas individu larut, dan yang tersisa hanyalah rasa bersama.
Di bawah sinar bulan, Celebes Roots menjadi titik temu di mana musik bukan hanya dimainkan, tapi benar-benar dirayakan. Lebih dari sekadar festival, ia adalah pengalaman kolektif yang menyatukan denyut musik dengan denyut manusia. Dari panggung ke crowd, dari crowd ke langit malam, energi itu berputar, menegaskan satu hal: reggae bukan sekadar genre, melainkan cara hidup yang menolak keterasingan dan merayakan kebersamaan.




Show Comments