Hakikatnya, reggae bukan cuma musik hiburan, Ia bisa menjadi ingatan kolektif yang jujur, bahkan melebihi textbook manapun. Papua Reggae Festival IX 2026 datang ke Nabire dengan satu misi sederhana namun penuh daya: memberikan gambaran bahwa bumi cenderawasih punya suara sendiri.
Dengan tema “Roots & Culture,” PRF IX 2026 seperti menegaskan sebuah kontrak dalam acara ini. Sebuah kontrak yang mendorong dua kata familiar ini menjadi sebuah manifestasi bagi seluruh line-up dalam hajatan ini. Setiap band yang naik panggung wajib membawakan minimal satu lagu asli dari daerahnya, diaransemen dengan tangan mereka sendiri. Artinya: tidak ada ruang untuk sembunyi di balik cover version lagu orang lain. Tidak ada ruang untuk sewa identitas. Datang dengan akarmu, atau jangan datang sama sekali.

Setidaknya 22 band reggae Papua telah terkonfirmasi. Masing masing membawa cerita dari tanah, bahasa dan cara bertutur yang berbeda. Bar Abib Band sebagai representasi Pegunungan Bintang. Timika Black Sound membawa getaran barat dari Mimika. Dari ketinggian Jayawijaya, Bliem Valley Root’s dan Rasmel Band turun dengan nuansa pegunungan yang dingin dan menjulang, ditemani Holim Bros dan Buselek Band dari wilayah yang sama — empat nama dari satu tanah, empat karakter yang membawa warna berbeda. Yowa Band membawa energi Puncak Jaya. Dari Deiyai, empat nama datang sekaligus: Meeuwodide Band, KND Band, Koteka Band, dan Yupiiwo Band, menjanjikan rundown penuh, berisi mozaik dalam mozaik.
Nabire sebagai tuan rumah tampil lewat Amoye Band dan SP Roots Band. Benbai Band mewakili Boven Digoel. Wone Roots dan Melanesia Basts datang dari Tolikara dengan pendekatan roots yang tegas. Anak Danau dan Nolokla Band membawa suara Kab. Jayapura; Insos Ori menjadi wajah Kota Jayapura di panggung ini. Cahmbarda Band dari Kepulauan Yapen, Mosom Dawe dari Mamberamo Tengah, dan Wiwa Band dari Lanny Jaya, mereka datang sebagai perwakilan koordinat geografis yang sekaligus membawa pernyataan kultural.
Dan itu belum termasuk nama-nama besar reggae Papua yang dijadwalkan hadir memperkuat atmosfer.
Yang menarik, implikasi dari konsep ini. Di era ketika globalisasi musik membuat semua bunyi terdengar seperti dari satu kota yang sama, PRF IX 2026 memaksa setiap band untuk menjawab pertanyaan yang tidak nyaman: apa yang tersisa dari kamu, setelah semua pengaruh luar disaring?
Jawaban lebih dari dua puluh dua band itu akan menggema dari Nabire. Memang, tidak ada jaminan bahwa semua jawabannya sempurna, tapi itulah yang membuat momen ini hidup. PRF IX 2026 tidak membuat Cenderawasih terbang dengan sempurna, hanya memastikan untuk mampu terbang dengan sayapnya sendiri.
(Keyko, Sam)



Show Comments