Flores Reggae Festival 2021

Selama dua tahun lebih, pandemi Covid 19 telah membuat lesu gempita dan riuh dunia seni pertunjukkan konser musik. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat para seniman dan musisi untuk tetap berkarya dan bergeliat. Ya, hal ini jugalah yang nampak dilakukan oleh para musisi-musisi muda asal Flores, Nusa Tenggara Timur – Indonesia yang penuh gairah menggelar konser virtual Flores Reggae Festival (FRF) pada 10 November 2021 lalu, yang didukung oleh Bronik Media dan Gasa Riddim. Bertema “Dari Flores Untuk Indonesia: One Love One Heart”, mereka menggemakan vibrasi positif musik reggae berbalut budaya bagi Indonesia dan dunia. Konser ini digagas untuk menginspirasi dan memotivasi para musisi secara luas dan khususnya di Flores untuk dengan penuh daya kreatif terus berkarya dan menghibur masyarakat di tengah wabah pandemi namun tetap bertanggung jawab dalam mematuhi protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, tentunya gelaran ini juga menjadi ajang promosi budaya dan pariwisata dari Flores, Nusa Tenggara Timur dan Indonesia.

Musik reggae yang berasal dari Jamaika dan telah menjadi warisan budaya dunia ini diapropriasi dengan apik dan kontekstual dengan tetap menjaga otentisitas dan keberlangsungan budaya lokal. Ivan Nestorman, seniman, musisi dan budayawan nasional asal Flores mengatakan bahwa, Flores memiliki banyak musisi potensial yang memilih reggae sebagai titik tolak atau pijakan mereka dalam berkarya. Hal ini nampak dalam line up yang mengisi acara Flores Reggae Festival (FRF) 2021 yang tersebar di berbagai pelosok tanah air maupun diaspora di luar negeri seperti dari Australia dan Jerman.Start dari Ende, yang terkenal dengan situs peninggalan bersejarah presiden pertama RI, Soekarno dan pesona danau tiga warna ‘Kelimutu,’ hadir band Invia sebagai opening act membawakan karya mereka bertajuk “Indonesia Timur” (Reggae Version). Syair lagu ini mengagungkan pesona keindahan alam Indonesia Timur, khususnya Flores bersama dengan keramahan dan ketulusan warganya. Seolah ingin memberi salam “welcome” bagi para pemirsa yang telah menanti untuk menonton. 

Di line kedua, ada band Havana yang menyanyikan lagu berbahasa Lio berjudul “Mo modhe”. Nuansa musik reggae yang rancak disertai harmonisasi vokal yang padat menghipnotis tubuh untuk bergerak mengikuti irama bahkan berdansa.

Menuju ke tanah Maumere yang identik dengan kerajinan kain tenun Ikatnya, ada Postman Mof tampil membawakan dua nomer mereka yang kental dengan aroma roots reggae klasik “Tua Rubi Kubang”, sebuah rendition nyanyian tradisional dan lagu berjudul “Moftown Rock”.

Sajian meriah nan unik datang dari grup musik kampung Leis Plang yang tampil menggunakan alat musik tradisional seperti : ukulele, gitar bass pukul (teren), gitar, banjo, biola, djembe dan tamborin. Mereka membawakan dua lagu, “Nong Didi” dan “Sora (Song of mior dadin)”.

Berikutnya dari Lembata yang terkenal dan mendunia karena tradisi berburu ikan pausnya (“kotakunma”) ada Gutty Lazar tampil solo membawakan lagu berjudul “Bolikana”, sebuah lagu tradisi yang diaransemen dalam irama reggae oleh Gasa Riddim. Tidak ketinggalan turut meramaikan dari kolektif Hip Hop Lembata Foundation membawakan  dua hits mereka, “Lembata Saja Le” yang mengisahkan kebanggan mereka terhadap tanah kelahirannya dan lagu “Lomblen Punya Rap” yang memamerkan kepiawaian mereka bermain kata dalam irama dan rima. 

Menuju ke Bajawa yang dikenal dengan kampung adat Bena Bajawa, peninggalan zaman megalitikum ada representasi dari Walla Roots membawakan lagu bernuansa raggamuffin nan syahdu karena harmoni saxophonenya berjudul “Lion Roar”. Sementara itu, dari Larantuka ada Niwan yang membawakan dua tembang tradisional “Tambela rinaro” dan “Ona Mina te”.
Dari Larantuka menuju ke Pagal yang terkenal dengan hamparan luas sawahnya yang berbentuk sarang laba-laba di Manggarai ada representasi Arye de Siul bersama Fraternity Soul membawakan dua lagu bertajuk “Petunjuk” dan “Rumah”, sebuah kritik dari mereka terhadap persoalan krisis lingkungan hidup.

Menuju ke Reo ada grup R2 dengan lagu bertajuk “Dance” yang mengajak audience untuk berdansa. Sementara dari kabupaten Nagekeo yang terkenal dengan atraksi tinju tradisional (Ettu) ada grup Akurasi membawakan lagu berjudul “Ada Tana”.

Labuan Bajo yang terkenal hingga ke mancanegara karena eksotisme alamnya ini direpresentasi oleh Benald Abar dan Charles Dafosa dengan nomor ska “This is My Paradise” menceritakan tentang keindahan panorama alam Flores. Sementara itu Cikal Ramli and Neighbours tampil membawakan instrumental roots reggae mereka berjudul “Riddim Kampung”.

Wakil Flores dari Jerman, ada Joseph menampilkan lagunya berjudul “Island Man” yang membanggakan identitas dirinya sebagai anak pulau Flores di negeri rantau. Dari Australia ada Uncle B dengan lagu bertema universal “Reggae Unites People”, sebuah premis yang menjadi karakteristik atau sugesti utama dalam musik reggae.

Dari Pulau Dewata, Bali, turut hadir meramaikan adalah Anthony D & Brother Joe yang membawakan single kolaborasi mereka bersama Gasa Riddim berjudul “Freedom Fighters”, sebuah kritik sosial yang mereka kemas lewat irama akustik dan hentakkan raggamuffin.

Apresiasi dan tribute dari Flores Reggae Festival (FRF) teruntuk mendiang musisi reggae asal Maumere, yang berkarya di Yogyakarta, Black Finit hadir lewat lagunya, “Biar Waktu Bicara”. Dilanjutkan oleh penampilan dari Ded & Friends dengan nomer ”Gak Pasti Pasti”.

Berikutnya menuju ibukota, dari Jakarta ada Nonkq Nongkray dengan dua komposisi akustiknya “Ayo Ke Flores” dan “Kita Bisa Kita Kuat”. Serta ada juga Sound of Paradise dengan lagu “Pesta Kita”. Big Lion tak mau kalah, mereka hadir menghentak puncak acara dengan dua nomor dancehall karya mereka, “Wake Up” dan “Beta”. Konser istimewa ini dikunci oleh Conrad Good Vibration dan Yohma Ragga Poli dengan tiga hits: “Bersatu”, “Riddim of Love”, dan “Humanity Crisis”. Ya, seperti mengaminkan harapan dari Eda Magdalena Tukan, salah satu narasumber dalam konser virtual ini bahwa: “reggae harus tetap hidup harus tetap eksis dan mampu bersaing juga mewakili dan memperkenalkan budaya dari lokal sampai nasional. Musik reggae juga harus mampu menyuarakan hak-hak asasi manusia untuk tetap diperjuangkan”.

Jaya terus reggae Flores, tetap konsisten. Terima kasih untuk konser virtual ini yang diperuntukkan bagi Indonesia dan dunia. Sampai jumpa di Flores Reggae Festival berikutnya yang semoga saja sudah bisa konser live and direct di tanah Flores, “The singing Island”.
(Yedi)

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Hollie Cook LP “Happy Hour”

Horison lovers rock penuh pesona dari Hollie Cook

Lady I – “Riddim Of Life”

Semangat positif yang terus menyala dari Filipina