Sekilas Wajah Reggae Per Dekade di Indonesia

Dalam memperingati hari jadinya yang kedua yang juga bertepatan dengan HUT RI yang ke 77 tahun, Kultur mengkompilasikan list lagu yang bernuansa reggae secara musikal dan tematik sejak mulai pertama kali menggema di Indonesia pada dekade 1980 an. List lagu ini memberi gambaran wajah perkembangan reggae per dekade hingga kini.

Musik popular Jamaika (ska, rocksteady & reggae) muncul di Jamaika pada awal 1960 an. Sementara di Indonesia sendiri beberapa musisi atau band sudah mulai memainkan nuansa musik ini pada dekade 1970 an semisal oleh group ternama Indonesia kala itu seperti Koes Ploes dan Black Brothers. Kedua grup yang disebutkan memang dikenal beraliran pop yang juga banyak bereksperimen dengan genre musik yang luas seperti rock & roll, rock, disco, keroncong, pop melayu, dan pop berbahasa daerah bahkan ska dan reggae.

Stroke rhythm gitar Yon Koeswoyo sudah memberi nuansa Ska pada Koes Plus di lagu ‘dheg dheg plas’ (1969) serta di lagu ‘O Kasihan’ (1976). Sedangkan Black Brothers sudah mulai bereksperimen dengan reggae di lagu ‘hilang’ (1977). Setelah hijrah ke luar negeri pada tahun 1979 mereka justru banyak membuat lagu-lagu berirama reggae seperti salah satunya ‘Sajojo’ yang cukup dikenal di Indonesia. Bahkan oleh beberapa pengamat musik di Pasifik dalam tulisannya mengakui bahwa adalah Black Brothers, band asal Papua, Indonesia ini yang menjadi pembuka jalan memperkenalkan musik reggae di wilayah Melanesia pasifik khususnya di PNG, Vanuatu, dan New Caledonia.

Selain kedua band diatas, ada juga Masanies Saichu, veteran reggae Indonesia ini melalui testimoninya kepada Kultur juga mengakui telah memainkan musik reggae sejak tahun 1970 an meski pada saat itu belum menjadi pilihan utamanya. Dari sini dapat dilihat bahwa pada dekade itu di Indonesia belum ada musisi atau band professional yang konsisten memainkan reggae.

Memasuki dekade 80an ada beberapa band yang sudah mulai memainkan reggae secara reguler di sejumlah pub atau cafe di daerah sekitaran blok M. Band-band itu antara lain seperti Abresso, Black Company, Asian Roots, dan Roots Rock Reggae (band awalnya Tony Q sebelum Rastafara). Namun pada saat itu mereka masih sering mengcover lagu seperti layaknya band-band cafe pada umumnya. Jimmy Ignacio (vokalis Black Company dan Asian Roots) sempat membuat sebuah lagu berjudul ‘Salsa I Sabor.’ Jimmy juga kemudian hari berkolaborasi dengan Fariz RM.

Lagu reggae yang dikenal luas masyarakat Indonesia saat itu pertama kali justru hadir dari penyanyi pop kenamaan Indonesia, bung Melky Goeslaw yang berjudul ‘Dansa Reggae.’ Lagu yang diproduksi oleh label rekaman DD records pada tahun 1983 ini kemudian semakin menjadi hits setelah dibawakan ulang oleh artis penyanyi Nola Tilaar.

Sesudahnya ada pula Arie Wibowo dengan grupnya Bill and Brod yang boleh dikata sudah konsisten memainkan reggae hampir di setiap karyanya. Pria kelahiran kota Salatiga, Jawa Tengah ini tenar dengan lagu ‘Madu dan Racun’ (1985) yang begitu melegenda di Indonesia. Selain Arie ada pula si penyanyi nyentrik Gombloh dengan lagunya seperti Kugadaikan Cintaku dan Apel (1986).

Memasuki dekade 90an reggae mengalami musim semi yang pertama kali. Hal ini ditandai dengan mulai bermunculan berbagai infusi nuansa reggae ke dalam arus musik mainstream di tanah air. Vibrasi khas reggae kerapkali mewarnai lagu-lagu artis pop Indonesia seperti Fariz RM, Farid Hardja, Doel Sumbang, serta juga beragam lagu disco dangdut saat itu seperti yang dibawakan oleh Yopie Latul, Lilis Karlina, dkk. Nuansa unik juga muncul dari perkawinan musik tradisi keroncong dan reggae seperti yang dibawakan oleh Rama Aipama, si Jimmy Cliff nya Indonesia.

Pada masa ini juga sudah mulai bermunculan grup band dan musisi yang secara pakem memilih reggae sebagai identitasnya antara lain seperti Tony Q Rastafara, Imanez, Anci Laricci (UB 2), Batavia Reggae dan juga Tyo Mally. Lagu-lagu mereka yang cukup populer saat itu antara lain seperti ‘Rambut Gimbal’ (Tony Q rastafara), ‘Anak Pantai’ dan ‘Samalona,’(Imanez), ‘Nona Manis’ dan ‘Susi’ (Anci Laricci & UB2), ‘Calon Mertua’ (Batavia Reggae) dan ‘How Are You, Apa Kabar’ (Tyo Mally).

Akhir tahun 1990 an hingga awal dekade 2000 an reggae mengalami hiatus di peta musik tanah air namun pertumbuhan organic grass roots lewat komunitasnya kian berkembang pesat. Hingga akhirnya tahun 2005 reggae mengalami kebangkitan kembali lewat grup band Steven n Coconut Treez. Ini merupakan ‘come back’ reggae lewat hit ‘Welcome to my Paradise.

Moment revival ini seolah menancapkan eksistensi reggae dengan kokoh dalam sejarah kehadirannya di tanah air. Sebuah momentum kebangkitan yang turut mengangkat kembali ke permukaan pelaku-pelaku lama dan para underground antara lain seperti Tony Q, Masanies Saichu, Joesai Sasak, Emilio Siregar dan Conrad. Steven n coconut treez menjadi kiblat dan patron kemunculan berbagai grup dan musisi reggae di Indonesia.

Sejak saat itu hingga kini reggae seolah tak ada matinya. Apalagi dengan adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang masif memudahkan para pelakunya untuk bisa bebas berkarya secara independen tanpa terdikte oleh label rekaman mayor. Reggae hadir dengan beragam taste dan variasi seperti salah satunya dancehall. Musisi awal dancehall di Indonesia adalah Ras Muhamad yang cukup fenomenal dan telah berhasil go internasional seperti yang terungkap dalam lagu ‘Pistol Parabellum.

Ia memberi corak dan memperkaya khasanah dalam perbendaharaan reggae di Indonesia. Dalam perkembangannya saat ini reggae juga sudah tidak tersentral di Jakarta saja tetapi menyebar luas dan merata di seluruh Indonesia dengan berbagai corak dan ciri khas. Bahkan arah reggae revivalist di Indonesia yang kini berpadu dengan musik lain seperti hip-hop menelusuri jejak yang dirintis oleh Ras Muhamad. Meski tetap berpijak pada akar visi dan misi kehadirannya, reggae selalu berkembang, berevolusi dan beradaptasi dan memicu revolusi baik dalam diri pribadi sebagai pelaku maupun penikmatnya serta community di mana dia hadir.  Semoga reggae terus menggema sepenjuru negeri membawa pesan cinta kasih, damai dan unity. Selamat ultah Kultur yang ke dua dan Negara tercinta yang ke 77. 

(Yedi)

 

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Legacy “Eternity” Marley Bersama Jo Mersa

The groove & inks from our contributor