Roy Putuhena

Sang Jembatan, Sang Penanda

Bassline penanda Jiwa reggae. Sang jembatan yang menghubungkan berbagai figur penting dalam reggae di indonesia.

Dedy Putuhena, Tony Q, Masanies, Joesai, Conrad Good Vibration & Iwanouz

Bagi para pelaku, pecinta dan pemerhati musik Jamaika di Indonesia, band Rastafara adalah nama primer dan krusial. Homofon kata ini bagai wali bagi fondasi serta sebuah epitome tonggak tumbuh kembang musik reggae di tanah air. Rastafara juga sangat melekat dengan nama sang frontman sekaligus leader grup, Tony Q. Militansi figur yang satu ini memang luar biasa dalam mengantarkan reggae yang sebelumnya hanya bagian dari sidestream musik tanah air, perlahan berhasil melakukan penetrasi hingga menjadi salah satu variabel yang diterima masyarakat (industri) musik nasional.

Rastafara

Selain nama Tony Q, dalam outfit ini, terdapat salah satu figur yang tak kalah penting yang harus tertulis dalam catatan sejarah musik reggae nasional. Dia adalah salah satu karib sang leader, sang pemain bass yang selalu menjaga solid nya rhythm section yang pernah dilahirkan oleh unit musik ini. Dia adalah Roy Putuhena! 

Roy Putuhena (Pace Roy)

Signature karakter penanda dalam setiap lagu reggae adalah bassline, elemen absolut dan mutlak dalam reggae. Ketika kita mendengarkan album pertama Rastafara “Rambut Gimbal” kita akan merasakan kehadiran pace Roy (sebuah panggilan dari kerabat untuknya) di sana. Ia telah berpulang 10 tahun yang lalu namun jejaknya layak untuk terpatri dan tetap dikenang oleh pecinta Jamaican music di Indonesia. 

Kultur merangkum kisah singkat mengenai sang Pace Rasta. Pace Roy bernama lengkap James Ronald Putuhena, lahir di Sorong, Papua, 21 Agustus 1963. Ia adalah anak ke dua dari delapan bersaudara. Kecintaannya terhadap musik memang sudah mendarah daging, ia berasal dari keluarga pemusik. Ayahnya, Adam Putuhena, adalah mantan drummer grup legendaris asal Papua, Black Brothers pada dekade 1970 an sebelum mereka hijrah ke Jakarta, demikian ungkap sang adik, Dedi Putuhena yang juga seorang musisi jazz dan sama sama memainkan bass.

Passion yang begitu besar terhadap musik dan termotivasi dengan kisah sukses senior mereka Black Brothers dan Black Sweet di ibukota, Roy dan Dedi bersama beberapa rekan sepakat untuk merantau ke Jakarta pada tahun 1982. Mereka nekat berangkat tanpa pamit pada orang tua dan keluarga karena takut tak diizinkan. Bertolak dari dermaga Jayapura, mereka menjadi penumpang gelap di kapal barang yang disangka bertujuan Jakarta namun ternyata cuma sejauh Surabaya. Alhasil mereka harus menjadi cleaning service selama berlayar sebagai ganti tiket mereka. Sesampainya di Surabaya, tanpa modal sepeserpun mereka akhirnya harus berjalan kaki sejauh sekitar 60 km hingga ke kota Mojokerto. Di sana mereka menumpang di rumah dinas sosial yang kemudian membiayai mereka untuk ke Jogjakarta sebelum akhirnya ke Jakarta.

Sesampainya di Jakarta mereka menumpang sementara di base camp grup Black Sweet sembari beradu peruntungan mereka sendiri dengan mengamen di jalanan maupun di kafe, terutama di seputaran Blok M. Jalan Falatehan adalah rendezvous dan melting pot bagi berbagai musisi kala itu.

Di tempat inilah awal kisah pace Roy berkenalan dengan reggae musik dan berbagai musisinya termasuk Tony Q.

Kepada Kultur, Tony turut mengisahkan awal pertemuannya dengan pace Roy pada tahun 1992. Kala itu Tony tengah mencari pemain bass baru setelah grup lamanya, ‘Exodus’ bubar. Ia lalu mengajak pace Roy untuk bermain reggae bersamanya walau saat itu Pace Roy masih memiliki band sendiri dan menjadi reguler player bersama Edo Kondologit di Oscar pub, cerita Tony.

Sejak saat itu pace Roy mulai melakukan konversi aliran musik.

“Sebelumnya ia dikenal sebagai seorang musisi Jazz dengan pengetahuan dan musikalitas yang mumpuni. Ia memiliki beragam referensi seperti GRP (Grusin-Rosen Production) all stars yang kemudian membuatnya sangat mengagumi Lee Ritenour. Setelah konversi ini pace Roy terlihat mulai menggimbal rambutnya dan makin sering mempelajari repertoire reggae untuk tujuan pentas.”, ujar Dedi, sang adik lebih lanjut.

Setelah pace Roy bergabung, terbentuklah grup band bernama ‘Rastaman’ dimana sebelumnya sudah ada Felix Siahaan (drum), dan Tobing (Keyboard). Namun band ini hanya bertahan dua tahun. Pada tahun 1994 mereka berganti nama menjadi Rastafara dengan masuknya Yus Panigoro sebagai pemain keyboard menggantikan Tobing yang hengkang. Adalah pace Roy yang mengajak Yus untuk bergabung dalam band baru ini. Dengan formasi inilah mereka bergerak menuju originalitas dengan menggarap karya sendiri yang melahirkan debut legendaris bertajuk “Rambut Gimbal” di tahun 1996, ujar Tony. Getaran signature bassline pace Roy adalah salah satu elemen dalam album bersejarah ini.    

Album ini ibarat “Catch a Fire” milik musisi Indonesia, sebuah karya yang sukses menasbihkan nama Rastafara sebagai batu penjuru musik Jamaika dan memasukkannya secara kasat dalam peta musik populer Indonesia. Lagu ‘rambut gimbal’ bahkan dengan elegan menciptakan identitas rujukan yang menjadi karakter dan otentisitas reggae khas Indonesia. Suatu apropriasi cerdik yang tidak sekedar mengimitasi.  

Sayangnya karena adanya perbedaan visi, kerjasama pace Roy akhirnya pupus dengan Rastafara, secara resmi, outfit ini bubar pada tahun 2000. Meski mereka tak lagi bersama namun silaturahmi dan perkawanan tetap jalan.

Bagaimanapun kita tetap berteman. Kalau kita tidak cocok dalam bekerja. Tidak ada masalah tapi kita tetap harus bersilaturahmi, tetap berteman, itu yang paling penting buat saya,” demikian ungkap Tony yang sedih dan terharu diajak Kultur bernostalgia dan berkisah. 

Lebih jauh dari testimoni sang adik, selepas berpisah dengan Rastafara yang telah memiliki nama besar, pace Roy harus berjerih payah membangun karir musiknya dari nol. Ia kemudian membentuk grup band baru yakni Jamming dan Taff Gong. Bersama Taff Gong awalnya ia dibantu oleh beberapa personil Asian Roots seperti Darsa (drum) dan Hansel (guitar). Ia lalu mencari personil tambahan, terutama sebagai penyanyi yang kelak melahirkan sejumlah nama yang menjadi figur penting dalam skena musik Jamaika di tanah air. Sebut saja antara lain seperti Masanies Saichu, Joesai Sasak, Iwanouz (ex-keyboardist Steven & The Coconuttreez), Emilio (Gangstarasta), serta Conrad Good Vibration. Pace Roy berperan layaknya seorang talent scout, sifatnya yang selalu meng-encourage serta tulus dan penuh memberikan dukungan kepada mereka yang berpotensi. Dengan bersuka cita, ia kerap berbagi panggung dengan mereka demi menyediakan ruang sebagai motivasi untuk terus berekspresi, demikian ungkap Frans Rumbino, salah satu sahabat dekatnya.

Getho, Noezry, Roy Putuhena, Darsyah, Budi & Conrad

Joesai Sasak kepada Kultur dalam edisi interview sebelumnya juga mengamini hal ini, dimana ia pertama kenal dengan pace Roy kala Tuff Gong tampil di Bali, saat ia masih menetap di sana. Pace Roy mengajaknya ke Jakarta untuk menggantikan posisi Masanies Saichu, vokalis Tuff Gong saat itu yang hendak pulang kampung ke Yogyakarta. Joe lalu beranjak ke Jakarta tahun 2002. Bersama Joe, Tuff Gong merilis satu single soulful dan prima dengan nuansa dancehall dan dub “It wasn’t me” dalam album kompilasi Indonesia Reggae Revolution #1 pada tahun 2005 yang digagas oleh Steven Kaligis.

Selain Joesai, ada Iwanouz sebagai pemain keyboard. Kepada Kultur Iwanouz juga mengisahkan awal pertemuan mereka. Kala itu ia menjadi pengiring band bersama dengan pace Roy yang menjadi guest star di perayaan HUT kota Merauke tahun 2002. Terpukau dengan kemampuan Iwanouz, pace Roy mengajaknya ke Jakarta untuk bergabung bersama Tuff Gong. Iwanouz yang saat itu baru saja lulus SMA dan juga memiliki cita-cita yang sama langsung mengiyakan. Ia sangat mengapresiasi jasa pace Roy atas karir musiknya.

“Pace Roy, adalah musisi yang mendedikasikan hidupnya banyak memperjuangkan reggae di Indonesia,” ungkap Iwanouz menutup testimoninya.

Taff Gong beberapa kali bergonta ganti vokalis, setelah hengkangnya Masanies dan Joe, datang Conrad Good Vibration seorang talenta muda asal Flores, NTT. Ia bergabung tahun 2007 untuk melanjutkan project recording album ‘Pace Rasta’ yang sempat tertunda dan membantu mengisi kevakuman posisi vokalis untuk sementara waktu. Setelah Conrad kembali fokus ke grup lamanya ‘Matahari’ dan juga kemudian membentuk proyek sendiri Conrad Good Vibration, Tuff Gong berganti nama menjadi Pace Rasta dengan vokalisnya Budi (ex Gangstarasta), dan Marlon dari band Black Face

Karir musik pace Roy juga tercatat dalam sejumlah rekaman musisi reggae di tanah air sebagai pemain bass, seperti pada album Masanies Saichu “gombale bolong,” Gangstarasta “Unity.”, Conrad Floresman “Tribute to the Land”, dan De Jongkers.

Namun, Tuff Gong adalah band terakhirnya, kepergian pace Roy pada tahun 2011 menyudahi langkah Taff Gong dan Pace Rasta. Meski pace Roy tak lagi hadir secara fisik namun spiritnya terus hadir lewat setiap getaran bassline musik reggae di negeri ini. Semangat dan sumbangsihnya bagi kemajuan Jamaican musik di Indonesia begitu mutlak dan vital!

Atas Wujud ‘1 Cinta’ darinya, mengalirlah hormat tak terhingga dari kita untuknya, sang Pace Rasta, Roy “the bassline” Putuhena.
(Text:Yedi Editor:sam)

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Ragam Wajah Ska di Indonesia

Edisi Spesial: Ragam Wajah Ska di Indonesia

Javabass Soundsystem

Indonesian Drum n Bass Heroes, Javabass Soundsystem

Shaggydog: Cerita Dari Sayidan

Kejayaan dari gang gelap di Yogyakarta