No Woman, No Cry

Optimisme dalam sebuah harmoni

Bulan Februari 2024 menjadi momentum yang sangat spesial bagi para pecinta musik reggae di seluruh dunia tak terkecuali Indonesia. Film biopic sang ikon, ‘Bob Marley: One Love’ oleh Paramount Pictures resmi dirilis pada tanggal 21 Februari dan bertahan selama seminggu di bioskop-bioskop tanah air.

Sebuah animo dan antusiasme besar yang berujung pada kepuasan sekaligus juga kekecewaan. Puas karena kisah Bob Marley akhirnya hadir dalam bentuk film untuk mengenang sang Legenda dan menginspirasi dunia terutama generasi saat ini tentang kehidupan dan perjuangan Bob Marley lewat musik reggae yakni spiritualisme, revolusi, resistensi, cinta kasih dan perdamaian. Di lain sisi ada juga rasa kecewa dan ketidakpuasan karena durasi 107 menit ternyata sangatlah terbatas dan tidak cukup efektif untuk merangkum dan menampilkan secara utuh dengan alur yang jelas tentang esensi masa 36 tahun kehidupan Bob Marley. Tidak seperti yang diharapkan jika kita membandingkannya dengan film biopic artis besar lainnya seperti Freddy Mercury dalam ‘Bohemian Rhapsody’ (2018) ataupun jika kita pernah membaca beberapa buku biografi Marley terutama seperti yang ditulis oleh Roger Steffens (2017), ‘So Much Things to Say’ dan Hettie Jones, ‘No Woman No Cry: My Life with Bob Marley’ (2005). Alur atau plot cerita yang begitu cepat dan melompat ke sana sini menunjukkan bukti betapa berjuangnya para penulis skenario dan sutradara untuk memberi sebuah potret sang legenda yang representatif. Namun terlepas dari banyaknya kritik terhadap kemulusan dan keakuratan kisah dalam film ini, Kultur tetap mengapresiasinya sebagai suatu bentuk karya seni yang sangat luar biasa.

Ada beberapa aspek utama yang menjadi highlight atau penekanan dalam film ini antara lain adalah signifikansi peran Marley yang hadir sebagai “juru damai” di tengah konflik politik yang berkecamuk dan memecah belah Jamaika saat itu.

Segregasi berdasarkan afiliasi politik pada partai buruh (Jamaica Labor Party) dan partai sosialis (People National Party). Konflik politik panjang dan berdarah ini tidak hanya melibatkan tokoh pimpinan ke dua Partai tersebut yaitu Edward Seaga (JLP) dan Michael Manley (PNP) tetapi juga para pemimpin gangster Claudie Massop (JLP) dan Bucky Marshall (PNP) seperti yang digambarkan di film One Love. Dalam framing politiknya, Bob Marley dianggap telah berafiliasi dan menjadi simpatisan (PNP). Dalam buku ‘So Much Things To Say’ disebutkan bahwa memang sebelumnya Bob Marley pernah tampil dalam pementasan musik yang disponsori oleh partai tersebut. Kedekatan Bob ke PNP sebagai partai berkuasa saat itu karena kebijakannya yang dirasakan lebih mengakomodir kaum Rastafarian. Bob berupaya keras untuk bersikap netral dan murni ingin bersumbangsih bagi kedamaian Masyarakat. Namun demikian nuansa politik kian kuat menjelang pemilu dan sangat beresiko bagi keselamatannya. Pada Desember 1976 beberapa hari sebelum konser musik ‘Smile Jamaica’ yang dicanangkan oleh pemerintah melalui departemen kebudayaan untuk meredam ketegangan di masyarakat, Bob dan grupnya ‘The Wailers’ telah menjadi target penembakan oleh orang tak dikenal yang disinyalir merupakan para ‘rude boys’ atau gangster suruhan dari pihak JLP sebagai upaya untuk membatalkan konser tersebut. Bob selamat dari upaya pembunuhan dan mengasingkan diri selama setahun di London sekaligus mengerjakan album ‘Exodus.’ Ia akhirnya memutuskan kembali lagi atas bujukan Claudie dan Bucky, dua bos gangster untuk melakukan misi perdamaian melalui konser bersejarah, ‘One Love Peace Concert’ pada bulan April 1978 yang menjadi klimaks dalam film biopic ini. Ada yang mengatakan konser itu berhasil namun faktanya eskalasi di masyarakat masih terus berlanjut. Konser itu setidaknya mungkin sedikit mengangkat beban yang dipikul oleh Bob Marley dan memberi kelegaan baginya untuk beberapa saat. Ada begitu banyak tekanan dan ekspektasi atasnya sebagai penyambung lidah masyarakat (voice of the people). Sebuah konsekuensi dari popularitasnya sebagai superstar dari negara yang sedang bermasalah. Semua perhatian dan harapan tertuju padanya.

Sisi lain yang menjadi highlight dalam film ini adalah; peran Rita Marley yang begitu central sebagai pendamping Bob ‘in high tide or low tide,’ dalam susah maupun senang.

Bilamana kita perhatikan dalam film ini sejatinya yang menjadi pahlawan adalah Rita. Seperti ungkapan “Behind every great man is a great woman.” Bagaimana kegigihannya dan kesetiaannya mendampingi Bob baik sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya, hingga profesionalitasnya menjadi penyanyi latar bersama Marcia Griffiths dan Judy Mowatt (I-Threes). Secara spesifik bahkan Rita digambarkan sebagai muse atau dewi inspirasi bagi Bob dalam menciptakan berbagai karya fenomenal, seperti salah satunya yaitu ‘No Woman No Cry’.

The I-Threes. Photo courtesy: https_worldmusiccentral.org

Seperti buku biografi Bob Marley dari sudut pandang Rita yang ditulis oleh Hettie Jones, lagu ‘No Woman, No Cry’ adalah jendela untuk menengok kehidupan Bob. Secara spesifik bagaimana melalui pesan liriknya kita memahami dan memaknai pandangan Bob terhadap dunia di sekitarnya (world viewnya). “Art is a window into which we perceive the world.” Bagaimana melaluinya kita menelaah pesan, baik secara personal hubungannya dengan Rita, secara komunal yang otentik dengan masyarakat Jamaika, tempat di mana dia berkarya mapun secara kontekstual yang lebih luas dengan tempat di mana lagu ini didengarkan dan dimaknai di Indonesia.

Dalam testimoninya di buku tersebut Rita mengatakan bahwa Bob selalu menulis lagu-lagunya secara jujur tentang apa yang sungguh ia jalani dan alami. Sebagian besar lagunya merupakan potret realita. Mereka bagaikan berita (news), edukasi dan juga prophecy.

Bob diberkati dengan kemampuan menulis lirik yang puitis dan liris. Dia pandai merangkai kata dengan berbagai gaya bahasa yang kaya. Teknik anonym dan eufemismenya dapat membungkus komentar sosial dengan manis dan tak vulgar diiringi musik roots reggae yang kontemplatif dan mensugesti kesadaran (consciousness).

Dia adalah seorang pujangga besar. Seorang penulis lirik yang jenius seperti yang dikatakan oleh Kwame Dawes dalam bukunya ‘Lyrical Genius’.

Memang harus diakui juga bahwa tidak semua lagu yang direkam Bob Marley adalah buah tangannya sendiri melainkan ada juga sumbangsih aktif dari para personil di The Wailers, ataupun dari sahabat-sahabat terdekatnya. Selain itu juga ada persoalan legalitas dan royalty yang belum diselesaikan dengan ‘JAD’, perusahaan rekaman milik Danny Sims, Johnny Nash dan Arthur Jenkins yang menaungi Bob sebelumnya (1968). Saat itu Bob tidak mendapat royalti dari lagu-lagunya karena clausal perjanjiannya. Semua lagu yang diciptakan Bob akan jatuh ke tangan label tersebut. Sehingga beberapa lagunya dengan label sesudah itu yakni, Cayman dan Island Records (1973-1976) dengan sengaja di salah atribusikan copy rightnya pada orang lain di dekatnya. Alasannya adalah supaya dia bisa mendapat claim atasnya. Chris Blackwell baru menyadari taktik ini sekitar tahun 1974, namun Island masih membayar royalti mekanis kepada para penulis yang sengaja disalah atribusikan ini.

Seperti diketahui credit copyright Lagu ‘No Woman No Cry’ diberikan pada sahabat Bob bernama Vincent (Tata) Ford meski ditulis oleh Bob. Menurut Rita hal ini dilakukan sebagai bentuk balas budi atas kebaikan Vincent yang sudah seperti figure bapak bagi Bob saat ia masih hidup susah di Trench Town.

Tak ada yang menyangka saat itu bahwa kelak lagu ini akan menjadi masterpiece yang sangat populer seantero dunia. Namun Bob seperti sudah memiliki visi dan prophesy jauh ke depan akan kebesaran dan kesuksesan lagu ini, di mana ia menyanyikan “in this great future, you can’t forget the past”. Lagu ‘No woman, No cry’ sudah seperti lagu kebangsaannya para pecinta musik Bob Marley dan reggae.

“No Woman, No Cry”, yang terdapat dalam album “Natty Dread” ini dirilis pada Januari 1975 dan sukses meraih posisi nomor 22 di tangga lagu Inggris dan bertahan selama 9 minggu. Versi livenya di Lyceum Theatre, London dimasukkan ke dalam kompilasi album “Legend” (1984) yang penjualannya mendapat sertifikasi Diamond (lebih dari 600.000 keping) di Inggris. Pada tahun 2004, versi live tersebut menduduki peringkat No. 37 dalam 500 lagu terhebat sepanjang masa versi Rolling Stone. Dan kemudian dinobatkan ke dalam Grammy Hall of Fame pada tahun 2005.

Lagu ini telah mencapai banyak tonggak sejarah bahkan di zaman modern ini. Antara lain adalah pada tanggal 22 April 2022 lalu, ‘No Woman, No Cry’ mendapatkan sertifikasi platinum di Inggris. Informasi tersebut dirilis oleh British Phonographic Industry (BPI) dan tercatat mendapatkan “Brit Certified Silver Award” berdasarkan penjualannya yang mencapai lebih dari 600.000 copy di Inggris. Video musik resmi “No Woman, No Cry” yang dirilis pada Juli 2020 telah ditonton lebih dari 45 juta kali, sementara rekaman live ‘No Woman, No Cry’ Juni tahun 1977 di Rainbow Theatre, London telah ditonton lebih dari 56 juta kali sejak dirilis pada Juni 2020. Namun, versi livenya pada tahun 1979 di Stadion Harvard, Boston, saat Festival Amandla memiliki jumlah tontonan terbanyak, yaitu 166 juta kali sejak dirilis tahun 2008.

Bob Marley And The Wailers Live at The Lyceum, London. Photo courtesy: discogs

‘No Woman, No Cry’ juga telah di cover oleh banyak artis lain seperti salah satu yang cukup populer yaitu oleh the Fugees, grup hip hop asal Amerika pada tahun 1996. Dan versi cover terbaru adalah oleh Tems, penyanyi asal Nigeria dan menjadi salah satu soundtrack dalam film ‘Black Panther: Wakanda Forever’ pada tahun 2022. Versi Tems ini mendapat sambutan positif dari para penggemar dan dengan cepat naik ke posisi No.1 dalam daftar Billboard Global Digital Song Sales. Selain itu ia juga mencapai posisi 7 di US Afrobeats Songs Chart dan posisi 50 di daftar Penjualan Lagu Digital AS Billboard. Pencapaian termutakhirnya rendition ini adalah tahun 2023 kemarin Dimana Tems sukses menyabet kategori Lagu Internasional Terbaik dalam NAACP (National Association for the Advancement Of Colored People) Image Awards ke-54, sebuah penghargaan untuk menghormati pencapaian dan bakat orang kulit berwarna di bidang film, televisi, teater, musik, dan sastra.

Di balik semua daftar panjang kesuksesan lagu ini kita ingin tahu apa sebenarnya yang dikisahkan Bob Marley dalam lagu ini?

Kultur mengulas kisah dibalik penciptaannya (the story behind the song) yang wajib bagi kita ketahui sebagai penggemar Bob Marley dan musik reggae. Di Indonesia melody refrain ‘No Woman, No Cry’ cukup populer dan sering diartikan sebagai “nggak ada cewek (pacar), nggak perlu menangis” atau “cowok yang masih jomblo (single) jangan baperan dan bersedih.

Kwame Dawes dalam bukunya ‘Lyrical Genius’ mengatakan bahwa Lagu ‘No Woman, No Cry’ memang memiliki ambiguitas makna dan seringkali salah dipahami terutama oleh audiens non-Jamaica. Hal ini dikarenakan ‘No Woman, No Cry’ sangat bernuansa sosio-historis dan biografis. Ia khas bersumber pada lokalitas tanah Jamaika. Referensi geografisnya sangat spesifik seperti, “Government Yard In Trench Town,” dan alusi-alusi yang berakar pada bahasa dan budaya Jamaika. Lirik lagu Bob Marley dan lagu reggae dari Jamaika pada umumnya menggunakan bahasa ‘Patois’ (Patwa), bahasa Inggris creole yang sangat berbeda dengan Bahasa Inggris standar yang biasa kita dengar ataupun gunakan. Sehingga bagi kita di Indonesia, tentunya membutuhkan effort yang lebih untuk bisa memahaminya.

Lebih jauh Dawes menjelaskan, meski ditulis secara konsisten dalam lirik lagu sebagai ‘No woman, no cry’ namun lebih akurat dalam versi bahasa vernakular Jamaika (patois) seharusnya menjadi “No woman, ‘nuh’ cry” Kata ’nuh’ atau ‘uh’ disini adalah bentuk bunyi vokal dari kata ‘no’ yang sama artinya dengan kata ‘don’t’ (jangan). Jadi judul dan refrain lagu “No woman, no cry” adalah suatu bentuk permohonan dan usaha meyakinkan sang kekasih (woman) untuk jangan menangis atau berhenti menangis: “No Woman, nuh [don’t] cry.”

‘No Woman, No Cry’ adalah narasi pribadi dan jelas berakar pada serangkaian pengalaman tertentu. Bob menempatkan lagu tersebut di tempat dan waktu tertentu sejak dari baris pembuka. Baris pertama dan kedua di setiap bait mengulang penggalan lirik yang sama yaitu:

“I remember when we used to sit, In the government yard in Trenchtown”.

Bob secara spesifik merujuk lokasi atau referensi geografis yakni Trenchtown. Apa gerangan yang membuat tempat ini begitu special dan ingin dikenang oleh Bob? Digambarkan bahwa Trenchtown merupakan suatu daerah slum yang padat penduduk di Kingston, ibu kota Jamaika. Perumahan di daerah ini kebanyakan merupakan subsidi pemerintah (government) namun kondisinya banyak yang tidak layak karena tidak tertata dengan baik serta kurang perawatan. Masalah perekonomian yang buruk sebagai dampak konflik politik yang berkepanjangan berimplikasi langsung kepada masyarakat terutama yang berasal dari kelas bawah. Sangat sukar untuk mendapat pekerjaan dengan gaji yang layak. Namun banyak penduduk desa yang datang dan berharap kota menawarkan kesempatan sukses yang lebih baik.

Demikian halnya dengan Bob dan Cedella, ibunya yang meninggalkan kampung halaman mereka di Nine Miles, St.Ann. Saat di Trench Town, mereka tak memiliki rumah dan menetap bersama Taddy Livingstone, ayah tiri Bob dan yang juga adalah ayah kandung, Bunny Livingston, compatriot nya di The Wailing Wailers. Kebersamaan Taddy dan Cedella tak bertahan lama, meski hubungan mereka menghasilkan seorang anak perempuan bernama Pearl. Mereka akhirnya berpisah dan Cedella merantau ke Delaware, Amerika dengan membawa serta Pearl sementara Bob dititipkan pada Taddy. Sepeninggal Cedella, Taddy tidak memperlakukan Bob dengan baik. Hal ini menyebabkan Bob tidak betah dan harus menumpang ke sana sini. Kamar audisi di Studio One milik Coxsone Dodd adalah salah satu tempat tinggal Bob. Namun konon kamar itu berhantu. Bob punya pengalaman buruk terteror hampir setiap malam. Rita bahkan kerasukan saat menginap bersama Bob di tempat itu. Kisah ini menjadi inspirasinya di lagu ‘Duppy Conqueror’ (penakluk hantu).

Studio One. Photo courtesy: Jamaica information Service (Facebook)

Sedih dan iba akan kondisi Bob yang tidak punya tempat tinggal, Rita yang saat itu juga hidup menumpang pada bibinya, Viola, memohon agar Bob diijinkan tinggal bersama mereka. Meski awalnya menentang keras namun akhirnya, Viola mengabulkannya setelah Bob dan Rita menikah pada tahun 1966.

Adalah 18A Greenwich Park Road, sebuah rumah yang paling indah untuk ukuran ‘rumah subsidi.’ Bangunan kayu dengan atap seng, bagian dari skema perumahan pemerintah. Namun memiliki beranda dan halaman, sesuatu yang tak biasa di Trenchtown menurut gambaran Rita dalam memoarnya. Ia juga menambahkan bahwa halaman pekarangan rumah inilah yang dimaksudkan Bob sebagai ‘government yard’ dalam lagu ‘No Woman, No Cry’.

Meskipun ada kemungkinan lain, karena hubungan pasang surut Rita dan Bob dengan sang bibi yang sering terlibat pertengkaran membuat Bob terkadang menumpang di tempat sahabatnya, Vincent ‘Tata’ Ford. Sebuah dapur yang dijadikan sebagai kamar tidur, tempat di mana Bob dan Rita pertama kali bercinta.

“oba..observing, dem hypocrites, mingle with the good people we meet”

Kata ‘hypocrites’ (orang-orang munafik) dan ‘good people’ (orang-orang baik) dalam penggalan lirik selanjutnya menunjukkan sebuah hubungan paradoksikal. Pertemuan antara positif dan negatif merupakan bagian dari kehidupan nyata terutama di daerah ghetto seperti Trench Town. Kehidupan keras yang berujung pada tindakan kriminal seringkali membuat orang sukar untuk membedakan mana kawan dan mana lawan. Keadaan ekonomi dan politik yang tidak stabil bisa merubah segala sesuatu termasuk tatanan sosial seperti hubungan antara individu dalam suatu komunitas. Keadaan ini berimplikasi kepada baris selanjutnya:

“good friends we have and good friends we’ve lost along the way”

Adalah sesuatu yang wajar bagi seseorang untuk mencari sahabat dalam berbagi dan menopang terutama pada saat situasi yang sulit. Hal ini pula yang dialami Bob di Trenchtown di mana ia memiliki banyak sahabat yang kemudian mempengaruhinya secara positif untuk merubah kehidupannya. Seperti diketahui pertemuannya dengan beberapa sahabatnya seperti Bunny Livingstone, Peter Tosh, Joe Higgs, dan Mortimer Planno telah membawanya untuk mengenal musik dan spiritualisme Rasta. Dua hal mendasar yang menjadi inti kehidupan dan kreativitasnya. Namun kebersamaan persahabatan bisa saja berubah. Seperti yang dikisahkan dalam buku Roger Steffens bahwa hubungan Bob dan para sahabatnya dipenuhi banyak intrik karena kepentingan masing-masing. Antara lain seperti permasalahannya dengan Peter dan Bunny yang mengkandaskan trio awal ‘the Wailing Wailers’. Bob akhirnya membentuk grup baru ‘Bob Marley & The Wailers’ dengan masuknya personil baru seperti Barrett bersaudara (Aston & Charlie), Tyrone Downie, Earl Lindo, Junior Marvin, Al Anderson, Marcia Griffith, Judy Mowatt, Rita Anderson. Dan juga bagaimana Bob sangat marah terhadap Mortimer, guru spiritualnya yang ternyata seorang hipokrit karena persoalan uang dan prostitusi. Joe Higgs mentor vokal yang merasa tersisihkan dan persoalan royalti dengan Coxsone Dodd, yang sudah seperti figure ayah bagi Bob namun mengecewakannya.

Pada baris akhir dari bait pertama terdapat perbandingan kontras antara masa depan dan masa lalu:

“In this great future you can’t forget your past”

Masa depan yang jaya merujuk pada visi, harapan dan ramalan. Kejayaan masa kini adalah optimisme yang tercapai dari harapan di masa lalu. Dengan melihat masa jaya, Bob segera sadar bahwa ia tidak dapat memungkiri pandangan keadaan masa lalunya. Segala yang manis dan baik dibalik penderitaan akan selalu dikenangnya. Ia dengan jelas mengatakan bahwa masa lalu baginya adalah tempat yang bernama Trench Town. Tempat ini merupakan daerah slum yang kumuh namun Bob tidak menolak ataupun menyangkalnya. Ia justru merengkuh dan menerima keadaan itu serta mengabadikannya dalam memori. Trench Town bukan sekedar nama tempat tetapi merupakan bagian dari identitas diri yang dibanggakan seperti yang dilantunkan di lagu ‘Trench Town’:

“We come from Trench Town, …can anything good come from Trench Town?”

Hal ini menunjukkan bahwa semua keadaan itu telah memberi pelajaran positif baginya yaitu kepedulian terhadap sesama dalam suatu komunitas, kebijaksanaan tentang bagaimana berhubungan dengan orang lain serta yang terpenting adalah kapasitas untuk berharap dan yakin akan masa depan yang lebih baik.

Bait kedua dari lagu ini sangat kaya akan rima dan asonansi seperti pada kata ‘light’ dan ‘night,’ ‘wood,’ ‘would,’ ‘through,’ dan ‘porridge, carriage’:

“And Georgie, would make the fire light, I seh logwood burnin’ through the night. Then we would cook cornmeal porridge, half of which I share with you, yeah. My feet is my only carriage so I’ve got to push on through.”

Unsur-unsur seperti ini menjadi karakteristik kejeniusan Bob dalam menulis lirik-lirik lagunya. Sekali lagi konteks lokal Jamaika yang spesifik muncul lewat kata ‘cornmeal porridge’ (bubur jagung). Cornmeal porridge merupakan makanan pokok bercita rasa tinggi bagi masyarakat Jamaika khususnya kaum kelas bawah. Makanan yang sehat sekaligus mengenyangkan yang biasanya dinikmati oleh anak-anak hingga orang dewasa. Dalam lirik lagu digambarkan Bob menyantap cornmeal porridge dan berbagi dengan kekasihnya:

“Then we would cook cornmeal porridge, Half of which I share with you”.

Moment ini bernuansa romantis namun berbeda dengan romantisme yang digambarkan pada lagu umumnya yang lebih bersifat fantasi yang menyenangkan. Romantisme unik ini berakar pada realita yang tidak menyenangkan dari kehidupan yang keras. Bob mengungkapkan keindahannya berbagi dengan orang yang disayang dalam keadaan yang penuh keterbatasan karena kemiskinan.

Pola narasi anonym dan penggunaan pronoun, ‘you’ tidak menyebutkan secara jelas nama orang, namun bila merujuk pada kisahnya maka yang dimaksudkan di sini adalah Rita. Saat menetap di rumah bibi Viola ataupun di tempat Vincent mereka kerap kali memang memasak makanan sendiri. Rita juga terkadang memasak untuk menjamu sahabat-sahabat Bob yang berkunjung.

Potret kemiskinan nampak jelas pada baris lirik:

“And then Georgie would make the fire light As it was log wood burning through the night”

Ternyata Bob dan Rita tidak sendiri tetapi ditemani oleh seorang sahabat yang bernama Georgie. Di sini pola ‘anonim’ berubah dengan tidak menggunakan ‘pronoun’ tetapi langsung menyebutkan nama orang. Georgie adalah satu-satunya figure orang biasa yang disebutkan dalam lagu Bob. Ini adalah wujud apresiasi atas jasanya. Menurut Rita, Georgie adalah sahabat Bob yang biasanya datang dan memastikan bahwa mereka punya sesuatu untuk dimakan dengan membawa susu, sayuran dan buah-buahan. Ia menyiapkan api untuk memasak cornmeal porridge (bubur jagung). Suasana memasak ini tidak dilakukan di dalam rumah tetapi di halaman dengan menggunakan kayu bakar karena bahan bakar lain seperti gas mahal bagi mereka. Hidup penuh keterbatasan di lingkungan padat penduduk yang keras membuat orang harus bisa hidup berbagi. Berbagi tempat tinggal dan juga makanan.

Potret kemiskinan berikut nampak dalam baris lirik:

“My feet is my only carriage So I’ve got to push on through”

Baris lirik ini memberi alusi bahwa Bob merupakan pejalan kaki. Itulah kendaraan satu satunya yang membawanya kemanapun. Ia membandingkan secara harfiah kendaraan kemiskinan yakni ‘feet’ (kaki) dengan simbol kekayaan seperti kendaraan mewah yaitu motor dan mobil meski tidak menyebutkannya secara eksplisit dalam lirik.

Berjalan ke dan dari studio One, tempat mereka beraktivitas merupakan gambaran rutin Bob, Bunny dan Peter. Dalam salah satu perjalanan ke studio inilah Bob akhirnya berpapasan dan berkenalan dengan Rita. Berjalan adalah salah satu cara mudah untuk bersosialisasi, saling menyapa dan berbagai rasa di Trench Town. Sesuatu yang mungkin sulit dilakukan dengan berkendara. Gambaran berjalan dan saling menyapa ini dilantunkan Bob di lagu ‘Natty Dread’: “Then I walk up the first street, And then I walk up the second street to see, then I trod on through third street, and then I talk to some dread on fourth street…”

Semua kesusahan yang digambarkan dalam kedua bait sebelumnya kemudian diaminkan oleh Bob dengan nada tinggi penuh optimisme dan kegairahan lewat baris lirik:

“Everything’s gonna be alright”

Pernyataan ini bukan merupakan kata penghiburan atau bentuk rasionalisasi dari keadaan psikologis yang tertekan tetapi merupakan nada optimisme dan pengharapan bahwa dibalik semuanya itu ada pesan positif yang bisa diperoleh dan ada masa depan yang jaya.

Lagu ‘No Woman No Cry’ adalah karya agung yang bahasa liriknya sangat tertata dengan baik. Ia adalah lagu cinta yang unik. Sebuah puisi yang secara sederhana menangkap dan merefleksikan emosi jiwa manusia dalam setting waktu dan tempat secara mulus dan efisien.

Secara keseluruhan Bob ingin menekankan memori atau kenangan antara dia dan seorang perempuan yang dicintainya. Meski sosok sang perempuan itu ambigu namun bisa diasumsikan bahwa semua narasi lagu ini tertuju pada Rita Anderson, istrinya. Ia adalah satu-satunya perempuan yang hidup bersama dan merasakan masa-masa sulit di Trenchtown sebelum Bob kelak beranjak sukses dan terkenal.

Photo courtesy: Donisha Prendergast (Instagram)

Lagu ‘No Woman, No Cry’ tidak menggunakan kata-kata klise cinta layaknya lagu-lagu bertema cinta pada umumnya. Ia justru membahas secara mendetail mengenai persoalan keseharian dan kompleksitasnya yang berakar pada tanah Jamaika dan budayanya. Bob dengan sadar dan penuh intensi membawakan sebuah lagu cinta lewat bahasa yang jujur apa adanya. Lugas tanpa mengumbar bualan soal cinta. Inti pesan utama yang justru menjadi sikap lagu ini adalah optimisme, bahwa sekalipun ada penderitaan, pengharapan tidak pernah hilang!

(Yedi)

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Nota Singkat Musik Jamaika di Indonesia

Musik asal Jamaika selalu berkembang mengikuti zaman, bahkan beriringan dengan kemajuan teknologi.

Diversitas Tanpa Batas Dalam Dub

Edisi khusus: Diversitas Tanpa Batas Dalam Dub