Mykal Rose

Di edisi spesial 2 tahun Kultur kali ini, kami mendapat sebuah kehormatan dapat mewawancarai salah satu figur reggae mumpuni yang telah memberikan sumbangsihnya selama lebih dari 25 tahun di dunia musik Jamaika. Sosok yang memiliki signature khas “Waterhouse Style” yang juga pernah bergabung bersama super group Black Uhuru ini, selalu menyajikan pesona lewat karya-karya fantastis dalam solo karirnya hingga saat ini.

Michael Rose atau lebih dikenal dengan ejaan Mykal Rose, diperkenalkan musik reggae oleh sahabatnya bernama Newton, yang juga memiliki studio rekaman di Scarlett Road, kawasan Waterhouse, Kingston – Jamaika. Di studio tersebut, mereka kerap bereksperimen menggunakan musik yang ada dan salah satunya sebuah track berjudul “Woman A Gineal”. Saat itu, Mykal mendapat kesempatan untuk menyanyikan sepenggal lirik dan membuat versi lain dari lagu tersebut. Setelahnya, Mykal muda mengikuti ajang pencarian bakat di sekitar Kingston dan memenangkan gelaran tersebut. 

“Kemudian, saya ditemukan oleh Niney The Observer (Winston “Niney” Holness) dan dibawa ke studio. Disana kami merekam (lagu) “Guess Who’s Coming To Dinner”, “Some Love Between Us”, “Freedom Over Me” dan “Clap The Barber”.”

Selain itu, Mykal juga pernah bekerja bersama Peter Tosh serta menjalani rekaman bersama sosok fenomenal lainnya, seperti Lee “Scratch” Perry, Yabby You dan Sly Dunbar.  Bahkan, untuk sosok terakhir, Mykal menyebutnya sebagai orang yang selalu ada di pergerakan musik Jamaika. Mykal menyatakan dirinya adalah salah satu yang turut mendorong Sly Dunbar untuk membentuk label sendiri, Taxi, dan Mykal menjadi artis pertama yang dirilis oleh imprint musik ini. 

Ketika Kultur bertanya, siapa sosok yang menginspirasinya dalam bermusik, ia menjawab Dennis Brown; figur yang sangat ia hormati. Menurutnya, Dennis Brown adalah salah satu penyanyi reggae terbaik dengan gaya yang khas. “Dennis Brown is like the godfather in the business, you know”, ujarnya. 

Dalam menulis lirik, Mykal selalu mengerjakannya di dalam studio pribadinya. Ia tidak memiliki tema spesifik dalam menggarap lirik, hanya menyesuaikan apa yang dirasakannya pada saat menggores pena. Hingga saat ini, ia memiliki setidaknya 20 buku lagu yang itu pun belum sempat direkam, Ia menambahkan.

Black Uhuru

Karir gemilang Mykal Rose kian meroket saat bergabung dengan band penuh daya Black Uhuru. Ia menceritakan masa awal dirinya bersama unit ini, saat itu, mereka kerap  bertemu di tepi sebuah lapangan sepakbola pada malam hari. Mereka saling berbincang untuk menemukan langkah dan strategi bagi group ini. Kemudian, mereka mulai berlatih dan rekaman untuk album King Jammy bertitel “Love Crisis” tahun 1977. Saat itu, Errol “Tarzan” Nelson (The Jayes) turut serta karena Black Uhuru tidak memiliki vokalis ketiga yang permanen, hanya Duckie Simpson dan Mykal Rose. Namun Errol Nelson memutuskan untuk keluar dari Black Uhuru dan berkonsentrasi bersama The Jayes. Tidak berselang lama setelah itu, mereka diperkenalkan kepada Sandra “Puma” Jones oleh rekan mereka. Duckie bersama Rose merasa cocok dengan kehadiran Puma untuk menjadi bagian dari Black Uhuru. Mykal Rose kemudian mengajak Sly Dunbar dan Robbie Shakespeare untuk memproduseri format baru Black Uhuru ini. Sly & Robbie menerima ajakan ini setelah menyelesaikan tur bersama Peter Tosh dan Mick Jagger dan langsung rekaman bersama King Jammy dengan materi lain yang sudah Mykal siapkan.

“Kami memulai dari lagu lawas bersama grup. Kami mulai (merekam) album “Showcase” (1979), yang terdapat tembang-tembang seperti “Guess Who’s Coming To Dinner”, “Shine Eye Gyal”, “Abortion” dan “General Penitentiary” ada di dalamnya. Kami melakukannya dengan sangat baik.”

Lagu legendaris “Guess Who’s Coming To Dinner” memang memiliki daya pikat istimewa, hingga dijadikan judul salah satu LP milik Black Uhuru yang pada tahun 1983. Sebagai penulis liriknya, Mykal Rose berkisah tentang latar belakang track ini. Saat itu, ia baru saja meninggalkan rumah orang tuanya untuk hidup mandiri dan mulai menumbuhkan rambut gimbalnya. Suatu waktu, ia mendapat undangan makan malam dari temannya di sebuah rumah wanita dari kalangan berada. Saat hendak makan malam, sang ayah terkejut dengan penampilan pria rambut gimbal dan mengatakan, “Oh it’s crazy, no!”. Kejadian itu yang menginspirasi Mykal Rose untuk menggoreskan kata-kata dalam “Guess Who’s Coming To Dinner” .

Menurut Mykal Rose, lagu yang menggambarkan dan merepresentasikan Black Uhuru itu sendiri adalah “Whole World Is Africa”. karena menurutnya, dahulu seluruh belahan dunia adalah satu bagian dan berpusat di Afrika namun seiring perjalanan waktu karena fenomena alam seperti zaman es mencair dan gempa menyebabkan bumi terpisah-pisah. Penjelasannya ini memang juga tercermin lewat nama grup mereka karena kata Uhuru berarti unity atau satu. 

Setelah tidak lagi bergabung bersama Black Uhuru, Mykal Rose tetap menjalani karirnya sebagai solois. Ia merasa lebih bebas berekspresi. Satu nama yang sangat ingin ia ajak berkolaborasi di masa akan datang adalah sahabat lamanya, Sly Dunbar. Baginya, Sly Dunbar merupakan rekan yang memiliki spesial energi yang berbeda. 

Hingga saat sesi wawancara ini dilakukan, “Butter Bread” adalah karya solo terbarunya yang dirilis pada Juli 2022 lalu. Dengan lagu latar “Discern Riddim”, lirik yang digarap pada nomor ini terbilang unik dengan mengambil tema kehidupan anak muda di Jamaika dengan balutan kalimat kiasan penuh makna mendalam. Walau dalam menggarap musik Mykal Rose cukup serius, tapi tujuan dirinya adalah membuat musik yang menyenangkan. Tentunya, isu sosial, kemiskinan dan perjuangan hidup di dunia ini tetap menjadi fokus utama dirinya.

Kultur sempat menanyakan pada Mykal Rose, apa yang menjadi favoritnya di antara ska, dub dan dancehall. Ia menjawab, ini pilihan yang sulit karena semua genre tersebut ia gemari. Baginya, Ska adalah otentisitas dari Jamaika meski saat ini ska seperti tidak lagi terkoneksi dengan tanah kelahiran nya. Dub, bagi Mykal adalah sesuatu yang dapat menghubungkan masa lalu dan masa kini. Sedangkan dancehall adalah sesuatu yang baru yang dapat menghubungkan dirinya dengan generasi saat ini, sesuatu yang harus ia pelajari. Mykal Rose pun berpesan kepada generasi muda bahwa segala hal tentang musik adalah untuk membuat perubahan dan menjadi diri sendiri.

“Saya telah banyak berbagi vibrasi baik kepada anak muda yang telah terjun ke dunia industri (musik). Semua ingin kehidupan yang lebih baik. Kita harus berharap dan berdoa agar lebih banyak lagi para anak muda yang bisa datang (ke industri musik) dan mencari nafkah”

Sebuah pesan padat sekaligus bijaksana yang menutup sesi wawancara kami bersama Mykal Rose. Long Live Mykal Rose!

(Reporter: Keyko, Transcribed: Yedi, Edit & Translated: Sam)

 

  • Show Comments (0)

Your email address will not be published. Required fields are marked *

comment *

  • name *

  • email *

  • website *

You May Also Like

Emilio Siregar

Sosok bersahabat dan penuh tenaga

Dubyouth

Interview spesial untuk edisi spesial akhir tahun

Masia One

Sesi wawancara dengan Sang Empress dari Asia Tenggara